Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Cerita Dibalik Listrik yang Ngambek

Gambar
Sepuluh-an menit menuju adzan magrib. Listrik njegleg tiga kali. Colokan tv, dan segala barang elektronik yang nyolok kami cabut. Kecuali, colokan rice cooker. Kos-kosan yang berada di lantai dua ini diisi oleh tujuh orang perempuan dari berbagai kota. Tak biasanya listrik ngambek begini. Usut punya usut. ** Kamis sore pukul 17.00 WIB. Di jalan menuju kamar seusai mencuci seng rice cooker dan alat makan. Saya bertemu satu perempuan yang hendak menuju dapur dengan membawa alat yang sama, seng rice cooker. Rupanya ia ke dapur bukan untuk mencuci seng yang kotor, tetapi mencuci beras untuk dimasak. Karena kran di dapur hanya ada satu, sementara saya memiliki keinginan yang sama (baca: mencuci beras). Terpaksa saya menunggu gadis asal Palu ini hingga kembali ke kamarnya. Suara sandal yang saya jadikan tanda. Sandal memang selalu kami gunakan di dalam kos. Sandal dalam biasa kami menyebutnya. Sandal jepit ini, khusus digunakan untuk pergi ke dapur dan ke kamar mandi. Suara sanda...

Indonesia (dalam) Bayangan

Gambar
Ditengah maraknya persoalan yang sedang terjadi di negara yang tahun ini memasuki 71 tahun usia kemerdekaannya. Saya kembali mempertanyakan, kemerdekaan apa? yang mana? Persoalan hingga kini semakin menjadi. Indonesia yang katanya menganut sistem demokrasi pancasila. Rasanya hanya ilusi. Buktinya pelanggaran yang harusnya menjadi realisasi pancasila, malah dinodai. Kemanusiaan, dan Keadilan seolah dipermainkan. Dibulan Mei ini saja sudah ada banyak kasus yang terjadi : Mengkritik kebijakan di kampus dibredel, Pelaksanaan sekolah Marx di kampus didatangi FPI, Mengadakan diskusi film/buku yang berbau komunis dilarang, bahkan penerbit buku yang dianggap kiri di intimidasi. Soal kemanusiaan, anak dibawah umur diperkosa hingga meninggal. Kemudian, tersangka hanya dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Ah, indonesiaku. Ketika saya melahap buku terbitan Yayasan Obor Indonesia yang berjudul Mochtar Lubis Bicara Lurus Menjawab Pertanyaan Wartawan. Di pengantar, seorang wartawan be...

Persma Bukan Humas Kampus

Gambar
Jauh hari sebelum Abdul Fadlil bertemu dengan Bintang dan kemudian membredel Poros.             (Baca :  Kronologis Pembredelan Pers Mahasiswa Poros  ) Saya tengah asik membaca buku yang lama tak tersentuh di rak buku. Untuk mahasiswa Public Relations atau Humas semester akhir, sebenarnya telat sekali bila baru membaca ini. Namun karena ke(so)sibukan saya di organisasi yang dianggap dosen tak sejalan dengan prodi. Saya memutuskan, mending telat baca, daripada tidak sama sekali. Bagaimanapun, tugas akhir nanti ya harus tentang  Public Relations , bukan Jurnalistik seperti apa yang saya pelajari 3 tahun di Persma. Begitulah. ** Nah, selesai baca, buku ini saya pinjamkan ke seorang Humas perusahaan swasta Jogja untuk jadi penuntun membuat program kerja. Saya sempat tak percaya, kalau organisasi yang beberapa bulan baru regenerasi ini dibekukan oleh kampus. Usai menerima kabar via sms, segeralah saya pergi ke bulan. Eh bukan, tapi pergi ke...