Indonesia (dalam) Bayangan



Ditengah maraknya persoalan yang sedang terjadi di negara yang tahun ini memasuki 71 tahun usia kemerdekaannya. Saya kembali mempertanyakan, kemerdekaan apa? yang mana? Persoalan hingga kini semakin menjadi. Indonesia yang katanya menganut sistem demokrasi pancasila. Rasanya hanya ilusi. Buktinya pelanggaran yang harusnya menjadi realisasi pancasila, malah dinodai. Kemanusiaan, dan Keadilan seolah dipermainkan.

Dibulan Mei ini saja sudah ada banyak kasus yang terjadi : Mengkritik kebijakan di kampus dibredel, Pelaksanaan sekolah Marx di kampus didatangi FPI, Mengadakan diskusi film/buku yang berbau komunis dilarang, bahkan penerbit buku yang dianggap kiri di intimidasi. Soal kemanusiaan, anak dibawah umur diperkosa hingga meninggal. Kemudian, tersangka hanya dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Ah, indonesiaku.

Ketika saya melahap buku terbitan Yayasan Obor Indonesia yang berjudul Mochtar Lubis Bicara Lurus Menjawab Pertanyaan Wartawan. Di pengantar, seorang wartawan bertanya :

Wartawan : Adakah memang tersedia kondisi objektif bagi kembalinya Lekra/PKI?
Mochtar Lubis : Peluangnya, kalau keadilan sosial di negeri kita tidak terjamin dengan baik, tidak dikembangkan dengan benar. Juga kalau hak-hak kebebasan di Indonesia masih dibatas-batasi. Kalau yang kaya semakin kaya, berlipat-lipat, sedang yang miskin masih puluhan juta di bawah [garis] kemiskinan. Apakah saudara pikir negeri kita ini tidak bergejolak secara sosial?

Kemudian saya menyamakan dengan kondisi saat ini. Gejolak sosial sudah bermunculan, misalnya saja aksi pasung semen yang dilakukan 9 srikandi dari Kendeng, hingga memicu penghadangan Ganjar Pranowo ketika berkunjung ke UII Yogya, beberapa organisasi yang menyatakan sikap terkait kebebasannya yang dibatasi, seperti Gema Demokrasi, Aliansi Solidaritas Poros, Bali juga Jakarta yang rakyatnya menolak reklamasi. Itu baru beberapa,   dan aksi Nyala Untuk Yuyun. Inget ya [baru beberapa] masih banyak yang lain.

Ketika begini, saya membayangkan, mungkin sesuatu akan terjadi. Terlebih soal jawaban Mochtar Lubis soal kembalinya PKI.

[Seketika hening, dan saya menopang dagu]

Hey, ngawur!

Tiba-tiba suara itu datang dengan pukulan tangan tepat di bahu. Teman saya menyadarkan.
Selamat Malam...

Yogyakarta, 13 Mei 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutemukan Kesetiaan

Analisis Komunikasi Kelompok

Debar Ketakutan