Debar Ketakutan

Benar-benar aku rasakan. Akan ketabuan yang ternyata aku rasa sekarang. Benar adanya memang. Bila tidur terlalu larut malam. Dini hari bahkan. Debar jantung akan semakin cepat. Begitu ujar lelaki dibalik handphone beberapa waktu lalu. Takut.
Pada penghujung malam, tepatnya dini hari setelah sabtu berganti minggu di bulanku. Dag dig dug, debar jantung semakin kuat. Takut rasanya. Sontak, pikiranku melayang pada cerita kawan beberapa hari lalu. Ada seorang mahasiswa meninggal setelah malamnya minum kopi. Sempat jadi bahan diskusi, apakah kopi sebahaya itu? Kebetulan, segelas kopi baru saja aku konsumsi beberapa jam lalu. Akankah aku pun mengalami itu?

Mati. Ah, pikirku ketakutan. Bagaimana tidak, sebelum malam datang. Rekan kerja sempat bertanya, bagaimana jika kau tak ada didunia lagi? Siapa yang akan menggantikan posisimu? Berulang kali dia bertanya seperti itu, meski berbeda waktu. Kamu, aku jawab begitu.

Rasanya memang seperti orang mau mati. Semakin mencekam. Dalam kuatnya debar yang sedari tadi aku rasa sendiri. Sengaja aku eratkan sepuluh jariku dalam genggaman, agar damai dan kembali tenang. Sudah kucoba, namun gagal. Dalam debar aku beranjak dan mengambil segelas air putih. Berharap kan tenang dan tak lagi berdebar. Ah, lagi-lagi gagal. Sama saja.
Sampai tulisan ini berakhir pun aku masih dalam ketakutan akan kematian. Berdebar.

Kotagede, 15 Februari 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutemukan Kesetiaan

Analisis Komunikasi Kelompok