Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Mereka yang Luar biasa

Setelah kewajibannya selalu mereka laksanakan, tadi mereka menuntut haknya. Tak digubris oleh atasan, akhirnya mereka melakukan m ogok kerja. Bersama mereka mengambil keputusan. Tanggal 20 nanti harus benar-benar pergi dari perusahaan yang sudah lama menghidupinya itu. "Pindah ke merah aja yuk," begitu obrolan yang berulang-ulang mereka ucapkan. Lama berada didekat gerombolan itu, akhirnya aku tau mereka ini karyawan dari perusahaan mana dan apa yang sedang mereka tuntut. Aku tak bisa berkomentar. Hanya saja, dalam diam saya salut terhadap keputusan yang mereka ambil. Sekitar 20 orang yang datang di cafe siang tadi. Kesiapannya untuk memilih re-sign dan kembali menjadi orang yang harus mencari kerja adalah pilihan yang luarbiasa. Mereka tangguh dan benar-benar pemberani. Betapa tidak, setelah mereka yakin untuk off. Satu diantara mereka segera memberitahu sanak saudaranya untuk kemudian bisa bekerja disana menggantikan mereka. Yogyakarta, 13 November 2015

Tentang Sahabat Kecilku

Gambar
Mita (kiri), Mesra (tengah), aku (kanan) foto dengan latar belakang Gunung Pulosari Tanggal 3 November adalah hari bahagia mereka, Mita yang akan melepas masa lajangnya dan Mesra yang akan menuai hasil akademiknya setelah 3 tahun berkutat di Akademi Pimpinan Perusahaan (APP). Jauh dari Jogja, aku selalu berdoa untuk mereka, atas keputusannya Mita dan kesuksesan Nca di masa yang akan datang sementara Syifa dan Aku masih dengan kesibukan akademik dan non akademik disini. Mereka adalah pelengkap mengapa masa kecilku bahagia luar biasa, mereka adalah orang gila yang super baik hatinya, mereka adalah pelipur lara, mereka selalu punya cara untuk membuat hari menjadi ceria. Kita dengan sikap dan sifat yang berbeda. Perbedaan itu yang akhirnya bisa menyatukan kita hingga sebesar ini. Butuh waktu lama hingga akhirnya kita bisa bertemu demi menceritakan segala kisah nostalgia dari SD hingga kuliah ini. Semoga kebingungan ini segera terjawab, satu untuk dua agenda yang berbeda. Kalian ...

Ah, Aku Memang Tak Peka

“Pantas saja, kamu memang ga peka” begitu kata gadis anggun yang biasa menjadi lawan berebut guling. Hal itu terjadi ketika satu teman yang sering aku kecewakan mulai cemberut di pintu sedari tadi. Aku masih asyik berbincang terkait permasalahan di organisasi. Jelas, ini sudah crowdeath –baca: Kacau- betapa tidak. Ini adalah kali ke sekian organisasi yang amat romantis dengan kampusnya mendapat teguran bahkan ajakan untuk menjadi organisasi normatif seperti halnya yang lain. Dalam hal ini, menyisihkan idealisme demi eksistensialisme. (ah apa, aku pun tak mengerti haha..) Tapi serius, ini memang kudu disampaikan pada waktu itu. Selain jarang ketemu, malam itu aku pun tidak diingatkan sesuatu. Jam menunjukan pukul 23.00 WIB kala itu, kata-kata gadis anggun tadi membuat aku merasa bersalah. Dia –inisial T- ternyata sedari tadi menungguku untuk pergi ke acara di selatan kampus. Tak perlu dijelaskan acaranya apa, yang pasti itu adalah event setahun sekali, dimana aku, dia...

Tantangan Relawan, Tantangan Semua Insan

Selama menjadi bagian, tentunya sebagai relawan di Rumah Perubahan. Segalanya tak jauh dari yang namanya tantangan. Dalam hal ini, tantangan mengumpulkan banyak tanda tangan petisi #SaveRRITVRI baik secara online ataupun langsung. Demi disahkannya Undang Undang Radio Televisi Republik Indonesia (UU RTRI). Berbeda cara berbeda juga tantangannya. Diacuhkan dan diajak berdiskusi tentang Lembaga Penyiaran Publik (LPP) adalah dua tanggapan orang  yang pasti akan kami dapatkan ketika turun mengumpulkan tanda tangan petisi ke Lapangan. Berbeda halnya ketika berupaya lewat online, link petisi yang kami sebarkan dihapus atau bahkan tak dihiraukan sama sekali. Tanggapan positif berupa diskusi kecil-kecilan seusai atau sebelum tanda tangan adalah salah satu kebahagiaan bagi relawan. Bahagia karena, kami merasa ada yang paham serta peduli terhadap TVRI dan RRI, selain kami yang bergerak di Rumah Perubahan. Namun, bukan tantangan jika hanya ada satu persoalan, tantangan lain saa...

Seusai Hujan Awal Mei

Siang ini seusai hujan turun, saya memilih berjalan kaki untuk sampai ke Kampus. Kurang lebih setengah jam waktu yang harus ditempuh. Sendiri saya tapaki jalanan aspal yang ada disalah satu Kampung Wisata Yogyakarta, Tahunan namanya. Berderet rumah namun ada yang menarik pandangan saya, sebuah kain warna-warni yang hampir ada disetiap rumah. Hingga dipertengahan jalan, saya baru tahu bahwasannya itu adalah satu karya khas dari Kampung Wisata ini. Batik Jumputan begitu nama yang terpampang di plang setiap rumah. Warnanya yang mencolok serta motif yang unik berhasil menarik pandangan saya. Sesekali ingin untuk menanyakan berapa harganya, namun dari obrolan saya beberapa hari  lalu bersama pejabat dinas budaya dan pariwisata Kota Yogya hal yang bisa saya simpulkan adalah harganya kurang bersahabat. Berjalan beberapa langkah, pandangan saya beralih pada Gedung disebelah kiri yang dipadati oleh beberapa mahasiswa beseragam merah berlambang satu universitas pendidikan neg...

Kembalikan Tempat Bermain Kami

Gambar
By Teaser Wismakharman Expo 2014 courtesy Youtube Berangkat dari realita yang terlihat, seakan semua tidak sadar. Yogyakarta yang kini marak oleh pembangunan Hotel ataupun apartement. Anak-anak kecil semakin terpinggirkan. Anak-anak yang biasanya bermain sore sambil main bola di Lapangan, atau sekedar berkumpul ditempat yang lapang. Dibalik bangunan megah, terdengar tangisan anak dengan beberapa anak lainnya sedang berkumpul di lorong sempit sebuah gang di permukiman dekat Kali Code. Kondisi pemukiman yang sudah padat dengan rumah-rumah warga, menjadi tempat bermain anak semakin terisolir. Anak-anak yang identik dengan kebebasan, bermain dikala sore hari. Namun, ketika saya berkunjung kesana tidak terlihat suasana seperti itu. Hanya terlihat sisa-sisa bangunan yang telah dirobohkan, saya pikir itu untuk memenuhi keinginan anak-anak di Kampung itu. Ternyata, untuk dibangun sebuah Hotel. "Katanya mau dibangun Hotel mbak," ujar pedagang di bawah gang sempit Kampung Ratmaka...

Kutemukan Kesetiaan

Seperti bulan dan bintang, makna kesetiaan yang selama ini saya pahami ketika malam datang. Gelap, hanya pancaran sinar putih dari tangan-tangan jemaah yang terlihat. Sembari mengisi buku tamu, saya biarkan dua mata ini berkeliaran menatapi setiap sudut halaman rumah tempat diskusi. Mencoba untuk menghitung dan memastikan berapa banyak orang yang datang dari sinar-sinar yang dari tadi menarik pandangan mata. Malam itu, kebetulan kesetiaan langit tidak nampak. Bintang-bintang berkoloni, tanpa bulan menemani. Meski begitu, mereka tetap elok untuk dipandang. Kegelapan dimuka bumi. Jangan bayangkan, kegelapan di masa silam bahkan masa jahiliyah. Situasi gelap malam itu tak lain hanya bagian dari ulah manusia pengendali listrik yang berada dinaungan lembaga negara kuning biru. Ya, ketika saya datang dengan beberapa kawan. Kegelapan menyambut kedatangan. Gelap sedari awal memasuki Jalan Wates ini. Diantara sinar-sinar yang letaknya   menclak-menclok   -tidak berada pa...

Trans Jogja - Gramedia Bisa Keliling Jogja

“Jogja ramah pejalan kaki” Itupun yang sering saya lakukan disetiap waktu luang. Suka. Entah. Bagi saya melepas penat cukup dengan bersyukur atas apa yang telah dimiliki. Dengan berjalan sembari mengamati realitas sosial dengan mata kepala sendiri, sungguh mengasyikan. Dengan tidak mengeluarkan kocek yang sangat banyak, Yogyakarta bisa saya kelilingi hanya dengan menaiki Trans Jogja. Dengan Trans Jogja, kadang bisa ditempuh dengan waktu cepat. Namun saya, untuk sampai Gramedia pun harus terlebih dulu berkeliling Jogja. Antara bahagia, tapi disitu saya merasa sedih. Ya, Trans Jogja adalah salah satu fasilitas umum yang disediakan oleh Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta. Memang, banyak sekali yang memilih Teje   ----- begitu sebutan untuk bis berwarna kuning hijau ini ----- Untuk pepergiaan didalam kota, Teje satu pilihan yang mudah. Daripada naik bus kota yang tak banyak orang tahu mengenai jalur-jalur yang dilewati pun juga harga. Sayang, karena mobil yang terbatas...

Foto Punya Cerita

Gambar
Ini adalah beberapa foto yang dikirim oleh mereka team yang super dan menggemaskan. Tepat dihari ulangtahun, mereka posting foto ini di facebook. Bila dilihat memang biasa saja, tetapi bagiku foto foto itu banyak mengandung makna, cerita dan bahagia. Ah, perjalanan yang menyenangkan bila dikenang. Akan aku coba ceritakan tentang foto yang telah Dalety, Fara dan Candy upload di facebooknya ini. 1. Design by Dalety Jelita Hayati Design by Dalety Jelita Hayati  Ada beberapa foto disini, aku coba menceritakan foto pertama dari arah kiri. Berlatar belakang batu besar, itu adalah salah satu tempat wisata di Jogja. Tepatnya di Kabupaten Gunung Kidul, bersama PPMI aku kesana. Pantai Watu Lawang, beberapa bulan lalu aku pun pernah posting foto-fotonya disini. Foto kedua, foto selfie di Ruang Kerja begitu sebutan untuk salahsatu UKM yang saat ini aku sedang geluti. Tepat di kursi panas. Foto ketiga, bersama Dalety dan Ayun saat berkunjung ke Benteng Vredev...

Its Our Day

Gambar
Hari bahagia ibu dan bapak, betapa senangnya 21th lalu mereka dikarunia gadis manis, cucu cewek pertama mbah Sosro. R.Nurul Fitriana Putri yang dulunya bernama Ervina Fitriawati. Kini sudah besar dan siap dapet giliran bikin mereka bahagia. Tak lupa, hidup tak lengkap tanpa sahabat, terimakasih Angels 6174 dan Rebeck Playgroup yang masih setia sampe sekarang. Keluarga POROS, Persma se-Jogja, Rumah Perubahan, Komunikasi UAD, Perhumas Muda serta Yogyakarta atas pelajaran, ilmu, kenangan juga cerita. Tuhan, terimakasih atas kesempatan hidup sampai saat ini. Loveyou! Tuntungan, 24 Februari 2015

Debar Ketakutan

Benar-benar aku rasakan. Akan ketabuan yang ternyata aku rasa sekarang. Benar adanya memang. Bila tidur terlalu larut malam. Dini hari bahkan. Debar jantung akan semakin cepat. Begitu ujar lelaki dibalik handphone beberapa waktu lalu. Takut. Pada penghujung malam, tepatnya dini hari setelah sabtu berganti minggu di bulanku. Dag dig dug, debar jantung semakin kuat. Takut rasanya. Sontak, pikiranku melayang pada cerita kawan beberapa hari lalu. Ada seorang mahasiswa meninggal setelah malamnya minum kopi. Sempat jadi bahan diskusi, apakah kopi sebahaya itu? Kebetulan, segelas kopi baru saja aku konsumsi beberapa jam lalu. Akankah aku pun mengalami itu? Mati. Ah, pikirku ketakutan. Bagaimana tidak, sebelum malam datang. Rekan kerja sempat bertanya, bagaimana jika kau tak ada didunia lagi? Siapa yang akan menggantikan posisimu? Berulang kali dia bertanya seperti itu, meski berbeda waktu. Kamu, aku jawab begitu. Rasanya memang seperti orang mau mati. Semakin mencekam. Dalam...