Tantangan Relawan, Tantangan Semua Insan
Selama menjadi bagian, tentunya sebagai relawan di Rumah Perubahan.
Segalanya tak jauh dari yang namanya tantangan. Dalam hal ini, tantangan
mengumpulkan banyak tanda tangan petisi #SaveRRITVRI baik secara online
ataupun langsung. Demi disahkannya Undang Undang Radio Televisi
Republik Indonesia (UU RTRI). Berbeda cara berbeda juga tantangannya.
Diacuhkan dan diajak berdiskusi tentang Lembaga Penyiaran Publik (LPP)
adalah dua tanggapan orang yang pasti akan kami dapatkan ketika turun
mengumpulkan tanda tangan petisi ke Lapangan. Berbeda halnya ketika
berupaya lewat online, link petisi yang kami sebarkan dihapus atau
bahkan tak dihiraukan sama sekali. Tanggapan positif berupa diskusi
kecil-kecilan seusai atau sebelum tanda tangan adalah salah satu
kebahagiaan bagi relawan. Bahagia karena, kami merasa ada yang paham
serta peduli terhadap TVRI dan RRI, selain kami yang bergerak di Rumah
Perubahan.
Namun, bukan tantangan jika hanya ada satu persoalan, tantangan lain saat berada di lapangan adalah ketika orang yang dijumpai ternyata tidak paham sama sekali dengan perkembangan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) padahal yang menjadi target utama, rata-rata orang yang kami anggap mengerti akan kondisi TVRI dan RRI saat kini, mereka adalah mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi dan Hukum. Lagi-lagi soal tantangan, ketika menghadapi hal seperti ini kami harus berupaya menjelaskan. Tak kadang kami pun dikira sales ataupun SPG yang hendak menawarkan suatu barang. Karena, orang yang kami beri penjelasan tak hanya satu dua orang, melainkan siapapun yang saat itu kami jumpai. Baik mereka yang sedang diskusi di Taman ataupun yang sedang lewat dihadapan. Dalam sehari, kami menargetkan 400-500 tanda tangan, dengan jumlah relawan yang hanya enam orang. Tak ingin satu orang pun kami lewatkan, karena satu orang akan memberi satu tanda tangan, hingga akhirnya memenuhi harapan. Kampus demi kampus kami datangi, akun demi akun kami hinggapi.
Tantangan untuk melakukan gerakan #SaveRRITVRI memang tak semudah dibayangkan. Kini banyak orang yang mulai tak peduli bahkan tak menganggap penting adanya penyiaran publik. Padahal secara keberadaannya, ditengah derasnya arus kebebasan media seperti sekarang ini TVRI dan RRI lah yang seharusnya dapat mengimbangi. Tetapi, kini seolah tak dibutuhkan lagi, ironisnya sampai ada beberapa orang yang ditemui menyatakan “Bukannya TVRI sudah bubar ya?.”
Melihat realita seperti ini di Lapangan, ternyata peran Rumah Perubahan yang aktif dalam gerakan #SaveRRITVRI perlu mendapatkan perhatian khusus, agar kelak masyarakat Indonesia terlebih orang-orang yang kelak bergelut dalam dunia Ilmu Komunikasi paham betapa penting media ini untuk dipertahankan. Lagi-lagi tantangan, tantangan yang sebenarnya bukan hanya untuk kami sebagai relawan melainkan tantangan bagi semua insan.
Namun, bukan tantangan jika hanya ada satu persoalan, tantangan lain saat berada di lapangan adalah ketika orang yang dijumpai ternyata tidak paham sama sekali dengan perkembangan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) padahal yang menjadi target utama, rata-rata orang yang kami anggap mengerti akan kondisi TVRI dan RRI saat kini, mereka adalah mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi dan Hukum. Lagi-lagi soal tantangan, ketika menghadapi hal seperti ini kami harus berupaya menjelaskan. Tak kadang kami pun dikira sales ataupun SPG yang hendak menawarkan suatu barang. Karena, orang yang kami beri penjelasan tak hanya satu dua orang, melainkan siapapun yang saat itu kami jumpai. Baik mereka yang sedang diskusi di Taman ataupun yang sedang lewat dihadapan. Dalam sehari, kami menargetkan 400-500 tanda tangan, dengan jumlah relawan yang hanya enam orang. Tak ingin satu orang pun kami lewatkan, karena satu orang akan memberi satu tanda tangan, hingga akhirnya memenuhi harapan. Kampus demi kampus kami datangi, akun demi akun kami hinggapi.
Tantangan untuk melakukan gerakan #SaveRRITVRI memang tak semudah dibayangkan. Kini banyak orang yang mulai tak peduli bahkan tak menganggap penting adanya penyiaran publik. Padahal secara keberadaannya, ditengah derasnya arus kebebasan media seperti sekarang ini TVRI dan RRI lah yang seharusnya dapat mengimbangi. Tetapi, kini seolah tak dibutuhkan lagi, ironisnya sampai ada beberapa orang yang ditemui menyatakan “Bukannya TVRI sudah bubar ya?.”
Melihat realita seperti ini di Lapangan, ternyata peran Rumah Perubahan yang aktif dalam gerakan #SaveRRITVRI perlu mendapatkan perhatian khusus, agar kelak masyarakat Indonesia terlebih orang-orang yang kelak bergelut dalam dunia Ilmu Komunikasi paham betapa penting media ini untuk dipertahankan. Lagi-lagi tantangan, tantangan yang sebenarnya bukan hanya untuk kami sebagai relawan melainkan tantangan bagi semua insan.
Komentar
Posting Komentar