Ah, Aku Memang Tak Peka
“Pantas saja, kamu
memang ga peka” begitu kata gadis anggun yang biasa menjadi lawan
berebut guling. Hal itu terjadi ketika satu teman yang sering aku
kecewakan mulai cemberut di pintu sedari tadi. Aku masih asyik
berbincang terkait permasalahan di organisasi. Jelas, ini sudah
crowdeath –baca: Kacau- betapa tidak. Ini adalah kali ke sekian
organisasi yang amat romantis dengan kampusnya mendapat teguran bahkan
ajakan untuk menjadi organisasi normatif seperti halnya yang lain. Dalam
hal ini, menyisihkan idealisme demi eksistensialisme. (ah apa, aku pun
tak mengerti haha..) Tapi serius, ini memang kudu disampaikan pada waktu
itu. Selain jarang ketemu, malam itu aku pun tidak diingatkan sesuatu.
Jam
menunjukan pukul 23.00 WIB kala itu, kata-kata gadis anggun tadi
membuat aku merasa bersalah. Dia –inisial T- ternyata sedari tadi
menungguku untuk pergi ke acara di selatan kampus. Tak perlu dijelaskan
acaranya apa, yang pasti itu adalah event setahun sekali, dimana aku,
dia dan mereka –Teman angkatan ataupun adek kelas- bisa berkumpul
bersama. Sebut saja ulangtahun Prodi. Ya, disini sebenarnya aku dilema.
Sedari jam 18.00 WIB bahkan pagi aku memang berjanji untuk datang di
acara setahun sekali ini. Tahun depan beberapa kawan sudah ada yang
wisuda (ah #akumahapaatuh). Selain itu pun, acara ini penting aku dan
dia datangi. Karena tak bisa dipungkiri, ini adalah acara kedua yang
dulunya pernah kita gagas bareng. (Iya, paham banget)
Setelah aku sadar karena dibangunkan oleh teguran. Aku beranjak, dengan posisi dia pergi duluan. Nampaknya dia menunggu sebentar lalu memilih pergi untuk meninggalkan. Seperti halnya aku yang juga meninggalkan beberapa teman yang sedang berpikir di ruang yang katanya identik dengan bau kertas. (ah, galau..) Naaaaaah, giliran aku yang kedepan. Ternyata dia sudah tak ada. Begaya kaya pemain sinetron, tengok kiri tengok kanan, jalan ke tengah jalan tapi ga ada siapa-siapa. Aku kembali ke peraduan dan akhirnya mencari bantuan. Aku telepon kawanku yang sudah di lokasi sedari tadi. Suara gaduh nan berisik yang aku dengar, akhirnya aku memutuskan untuk datang ke lokasi –meski tak sampai ke lantai empat- bertemu dengan beberapa teman seangkatan yang sekarang jarang sekali terlihat kumpul bersama. Aku mulai menyapa. Terlihat satu dari mereka mendapatkan piala karena juara, hebat!
Kutanya satu per satu, ada orang yang kucari tidak diatas sana. Ada yang bilang ada, ada yang bilang ga ada. Bahkan ada yang menahanku untuk keatas, karena acara telah selesai. Alamat akhirnya aku memutuskan untuk tidak memilih keatas. Ramai jelas suasana diatas terlihat dari ekspresi bahagia teman-teman yang barusan saja turun dari ruangan yang lumayan bikin pegel di kaki. (ah, bahagia kalo anak-anak udah bahagia)
Tapi, teman dekatku merajuk. Dia kecewa, dan ini sudah kesekian kali. Tak ada kata lain selain MAAF. Aku tak tahu, dan baru tahu setelah kamu memberitahu. Aku memang ga peka. Harusnya aku tahu cara kamu mencari bahagia. Ini PR besar. Aku harus bisa membuat satu event bersama. Setidaknya membayar kekecewaanku pada mereka teman satu angkatan. Meski tak akan pulih, setidaknya aku sudah menyembuhkan.
Setelah aku sadar karena dibangunkan oleh teguran. Aku beranjak, dengan posisi dia pergi duluan. Nampaknya dia menunggu sebentar lalu memilih pergi untuk meninggalkan. Seperti halnya aku yang juga meninggalkan beberapa teman yang sedang berpikir di ruang yang katanya identik dengan bau kertas. (ah, galau..) Naaaaaah, giliran aku yang kedepan. Ternyata dia sudah tak ada. Begaya kaya pemain sinetron, tengok kiri tengok kanan, jalan ke tengah jalan tapi ga ada siapa-siapa. Aku kembali ke peraduan dan akhirnya mencari bantuan. Aku telepon kawanku yang sudah di lokasi sedari tadi. Suara gaduh nan berisik yang aku dengar, akhirnya aku memutuskan untuk datang ke lokasi –meski tak sampai ke lantai empat- bertemu dengan beberapa teman seangkatan yang sekarang jarang sekali terlihat kumpul bersama. Aku mulai menyapa. Terlihat satu dari mereka mendapatkan piala karena juara, hebat!
Kutanya satu per satu, ada orang yang kucari tidak diatas sana. Ada yang bilang ada, ada yang bilang ga ada. Bahkan ada yang menahanku untuk keatas, karena acara telah selesai. Alamat akhirnya aku memutuskan untuk tidak memilih keatas. Ramai jelas suasana diatas terlihat dari ekspresi bahagia teman-teman yang barusan saja turun dari ruangan yang lumayan bikin pegel di kaki. (ah, bahagia kalo anak-anak udah bahagia)
Tapi, teman dekatku merajuk. Dia kecewa, dan ini sudah kesekian kali. Tak ada kata lain selain MAAF. Aku tak tahu, dan baru tahu setelah kamu memberitahu. Aku memang ga peka. Harusnya aku tahu cara kamu mencari bahagia. Ini PR besar. Aku harus bisa membuat satu event bersama. Setidaknya membayar kekecewaanku pada mereka teman satu angkatan. Meski tak akan pulih, setidaknya aku sudah menyembuhkan.
Tuntungan, 30 Mei 2015 pukul 00.00 WIB
Komentar
Posting Komentar