Kutemukan Kesetiaan
Seperti bulan dan bintang, makna kesetiaan yang selama
ini saya pahami ketika malam datang.
Gelap,
hanya pancaran sinar putih dari tangan-tangan jemaah yang terlihat. Sembari
mengisi buku tamu, saya biarkan dua mata ini berkeliaran menatapi setiap sudut
halaman rumah tempat diskusi. Mencoba untuk menghitung dan memastikan berapa
banyak orang yang datang dari sinar-sinar yang dari tadi menarik pandangan
mata.
Malam
itu, kebetulan kesetiaan langit tidak nampak. Bintang-bintang berkoloni, tanpa
bulan menemani. Meski begitu, mereka tetap elok untuk dipandang. Kegelapan
dimuka bumi. Jangan bayangkan, kegelapan di masa silam bahkan masa jahiliyah.
Situasi gelap malam itu tak lain hanya bagian dari ulah manusia pengendali
listrik yang berada dinaungan lembaga negara kuning biru. Ya, ketika saya
datang dengan beberapa kawan. Kegelapan menyambut kedatangan. Gelap sedari awal
memasuki Jalan Wates ini.
Diantara
sinar-sinar yang letaknya menclak-menclok -tidak berada pada satu fokus,
melainkan membuat banyak titik-titik ordinat- Mereka bertahan dalam kegelapan,
sinar-sinar menjadi bagian dari sekian banyak manusia, setidaknya hal itu
menjadi pertanda bahwa publik masih setia ditempat duduknya. Sebingkai obrolan
bahkan perkenalan menjadi hias dalam kegelapan.
Dari
mana saja asalnya, saya pun tak tahu. Pastinya mereka datang dan berkumpul
karena panggilan hati melalui ajakan teman atau bahkan ketidaksengajaan. Apa
yang didapat, nantinya akan menjadi bahan cerita, serta bumbu guyonan untuk
kawan yang tidak sempat datang. Dibagi gratis, sambil ngopi santai di warung
legendaris Jalan Gambiran ataupun Jalan Pramuka. Wah, nikmat!
Tak
semua penantian berujung indah. Serahkan pada Tuhan sang penentu rencana.
Hingga akhirnya, penantian malam itu berujung pada sepatah dua patah tim
penyelenggara soal penundaan diskusi yang sudah lama dinanti. Beberapa saat
dimulai, tiba-tiba listrik mati hingga publik dipaksa menanti.
Lama. Publik coba menyambi
demi menemani sepi. Wajar, malam itu jam ditangan sudah menunjukan pukul 21.59
WIB. Belum lagi, keluhan lapar kembaran saya. Beberapa kawan mengira bahkan
percaya, kita adalah kakak beradik.
“Kakak
Psikologi sementara saya Ilmu Komunikasi,” ucapku bila ditanyai soal kemiripan.
“Ooooooh pantes mirip,” begitu jawab mereka tanda percaya.
Kembali
ke malam lapar. Karena keluhan itu, dalih agar saya dan empat kawan lainnya
tetap berkumpul sembari memadamkan kelaparan, Angkringan di sekitar Krapyak
kita pilih.
Namun,
saat beranjak pergi menuju pintu keluar yang juga pintu masuk. Kami bertemu
dengan senior organisasi yang tak habis melahirkan cinta disetiap anggotanya.
Obrolan mengalir namun terhenti oleh PLN yang baru menghidupkan listrik di
Jalan Wates. Kembali melangkahkan kaki ke depan yang telah digelari tikar.
Tim
penyelenggara kembali angkat bicara dengan mic digenggaman, wanita berkerudung
itu kembali menjelaskan inti pembicaraan diawal tadi. “Diskusi tetap ditunda,
karena beberapa kabel sudah dicabut. Acara dilanjut besok saat Mocopat Syafaat
di Kasihan Bantul,” jelasnya.
Beberapa
publik ada yang langsung menanggapi informasi tadi dengan cara meninggalkan
tempat duduk. Bahkan orang yang tidak pernah melewati untuk mengikuti Maiyahan
pun langsung berbalik badan. Ia merasa bahwasannya tim penyelenggara tadi sudah
memberikan kode. Tetapi beberapa publik masih setia ditempat duduknya. Salut.
Melihat
kesetiaan itu, satu tim penyelenggara mengambil alih untuk berbicara didepan
publik yang sedari tadi tidak beranjak. “Saya tahu kalian jauh-jauh dari rumah
untuk datang kesini, ada yang nge-pit (sepeda), ada yang mlaku (jalan), ada juga yang rela
meninggalkan kesibukan lainnya demi datang diacara ini,” jelasnya sebelum
memulai diskusi santai tanpa rencana sebelumnya.
Akhirnya,
kesetiaan publik terbayar sudah. Hal yang ditunggu telah dimulai. Meskipun acara diskusi itu tidak sesuai dengan tema pembahasan sebagaimana mestinya. Namun begitu tak melenceng, beberapa
pembicara didepan berbicara banyak soal Umbu Landu Paranggi seorang guru bagi
budayawan Jogja. Di malam itu saya temukan kesetiaan.
Yogyakarta,
17 Maret 2015
Komentar
Posting Komentar