Trans Jogja - Gramedia Bisa Keliling Jogja


“Jogja ramah pejalan kaki”

Itupun yang sering saya lakukan disetiap waktu luang. Suka. Entah. Bagi saya melepas penat cukup dengan bersyukur atas apa yang telah dimiliki. Dengan berjalan sembari mengamati realitas sosial dengan mata kepala sendiri, sungguh mengasyikan. Dengan tidak mengeluarkan kocek yang sangat banyak, Yogyakarta bisa saya kelilingi hanya dengan menaiki Trans Jogja.

Dengan Trans Jogja, kadang bisa ditempuh dengan waktu cepat. Namun saya, untuk sampai Gramedia pun harus terlebih dulu berkeliling Jogja. Antara bahagia, tapi disitu saya merasa sedih.
Ya, Trans Jogja adalah salah satu fasilitas umum yang disediakan oleh Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta. Memang, banyak sekali yang memilih Teje  ----- begitu sebutan untuk bis berwarna kuning hijau ini ----- Untuk pepergiaan didalam kota, Teje satu pilihan yang mudah. Daripada naik bus kota yang tak banyak orang tahu mengenai jalur-jalur yang dilewati pun juga harga.

Sayang, karena mobil yang terbatas akhirnya setiap bus harus melewati rute yang telah ditentukan. Memakan waktu yang lebih lama, bahkan membuang waktu bagi yang sedang terburu-buru. Harapan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan transportasi umum yang efisien dan nyaman tetap saja tidak terjawab sampai harganya naik menjadi Rp.3.600 dari awalnya hanya 3000 rupiah.

Berbicara soal nyaman, tak jarang saya harus berdesakan dengan para penumpang yang lain. Sudah berdiri, bawaan banyak, supir yang mengendarai ugal-ugalan. Alamat, saya pun dipaksa untuk memasang kuda-kuda. Dengan cara memperkuat pegangan diatas, sembari memperlebar jarak kaki, memperkuat tumpuan agar tak terjatuh tatkala melewati belokan.

Niat pergi saya siang itu menuju Gramedia, toko buku yang sebetulnya tak cukup jauh dari Kosan. Berjalan kaki (lagi) saya menuju Shelter Teje terdekat. Tepat didepan Es Bangjoe Taman Siswa. Sembari menunggu, saya sambi dengan membaca buku. Saya pikir, seseorang kan bisa lepas dari yang namanya Internet. Mba berkerudung bunga-bunga, penjaga Shelter. Awalnya kukira tak punya gadget. Karena sedari tadi dia hanya bermain dengan handphone stupidnya --- Hanya bisa dipakai sms dan telepon--- Ternyata, benar juga kata Eyang Burhan Bungin bahwa dunia maya itu benar-benar ada. Persoalan cyber seperti perumpamaan “ruang waktu” bahwa manusia memiliki kehidupan baru diatas dunia nyata. Lewat sebuah gadget putih yang dipegangnya setelah menaruh hp pertama kedalam tasnya, lantas dengan cepat saya sudah berbeda dunia dengannya. Oh, hebat sekali teknologi zaman sekarang.

Kenapa tidak seperti saya, mengisi waktu luang ya membaca buku. “Lumayan tambah ilmu,” begitu hati saya bicara. Bukannya akan bermanfaat jikalau ada banyak tumpukan bacaan di Shelter. Sembari menunggu bis yang datangnya 30 menit sendiri. Lama kan. Nah, buku bisa menjadi teman baik. Dari yang sepele, tapi manfaatnya gede. Bukan malah main bagus-bagusan gadget. Trus, ada bapak-bapak tua mau duduk tapi terpaksa berdiri karena semuanya asyik main gadget. Wah, jiwa sosialnya berkurang tuh.

Kembali ke Trans Jogja. Setelah berjam-jam diajak berkeliling. Benar-benar keliling Jogja. Bagaimana pun, sebetulnya Gramedia dengan kosan saya tidak jauh-jauh banget. Lewat Tamsis – Sultan Agung – Jembatan Lempuyangan – RS.Bethesda – Jalan Jenderal Sudirman – Gramedia. Tapi, Teje membawa saya sejauh yang dia mau. Kewajibannya akan rute, membawa saya terlebih dulu ke Arah JEC hanya untuk mengisi bahan bakar serta membawa saya sampai Condong Catur dan Ringroad Utara. Super jauh dan buang-buang waktu. Untung saja, saat itu saya sedang punya banyak waktu.

Tak hanya soal buang-buang waktu. Bocor pun menjadi masalah, kemarin saya kebetulan naik Teje dengan kondisi hujan deras diluar. Berharap aman, namun ternyata tetes demi tetes berjatuhan mengenai kepala. Mendadak inget sama iklan genteng zaman baheula, “Bocor.. bocor...” begitu tiru saya dalam hati. Tak hanya mengenai kepala, air hujan masuk deras melalui celah mobil yang terbuka. Lantai mendadak becek. Untungnya, saat itu penumpang tidak terlalu banyak. Akhirnya, saya ditawarkan pindah tempat duduk oleh kondektur yang selalu memberitahu kita sudah sampai shelter mana. Tepat dipaling belakang, hanya beberapa centimeter jaraknya dengan ban paling belakang.
 
Sontak, saya mendadak mual. Karena supir membawa kuda besi hijau kuning ini bak rooler coaster di Dunia Fantasi Jakarta. Terombang-ambing, terlebih ketika melewati jalanan berlubang yang terpaksa dilewati oleh bus. Nampaknya, supir tengah emosi jiwa. Benar sekali dugaan saya. Ternyata semenjak dari JEC tadi,  supir menunggu Kondektur yang belum kunjung datang. Entah dengan alasan apa. Tapi, dengan upayanya menelpon. Supir sempat memberhentikan Teje dipinggir jalan. “Iya, saya Slamet Surono,” begitu ucap sang Supir sebelum menutup telepon dan kembali jalan.

Kembali ke Internet. Sepanjang perjalanan, dua orang lelaki berada disamping saya. Dengan bawaan yang cukup banyak. Antara mau ke Kampus, dari Kampus atau bahkan baru pulang kampung. Ya, dalam perjalanan itu mereka berdua sebut saja Budi dan Tono. Budi banyak bercerita soal bagaimana bisnis, peluang membuka bisnis, bahkan soal marketing di Sosial Media. “Iyalah, meskipun udah gencar di sosmed. Gue pikir bakal tetep ga laku, toh tempatnya pun didalem gang,” kata Tono menanggapi penjelasan panjang Budi.

“Gue ngantuk, semaleman main games. Ah seru banget. Lumayan dapet chips banyak, meskipun kudu nyambung internet dulu sebelum maen,” curhat Tono. Obrolan berlanjut dengan pembahasan mengenai game online. Dengan diam saya mengamati karena juga tidak mengerti sama sekali. Banyak kata-kata Gameloft atau apalah yang sering mereka sebut-sebut.
Tak terasa, sampai sudah saya di Gramedia. Kembali berjalan kaki setelah Teje berhenti didepan Gedung Pascasarjana UII Jalan Cokroaminoto. Gerimis saat itu, saya bergegas untuk segera sampai Gramedia. Disambut banyak buku di Lantai pertama. Akhirnya segeralah saya bergegas ke Lantai 3 untuk bertemu dengan buku yang jauh lebih banyak.

Tak saya lihat orang bergadget saat itu. Semuanya sibuk dengan buku yang ada ditangannya. Tempat baca buku gratis pun penuh. Sehingga banyak yang berdiri demi membaca gratis. Oh, bagi saya ini adalah keadaan tersyahdu kedua setelah liat lampu termaram terguyur hujan dimalam hari.
Ini hanya soal waktu, bukan mereka tidak punya gadget. Melainkan mereka yang memposisikan sesuai dengan waktunya. Ketika membaca, disimpanlah dulu gadgetnya. Meskipun informasi bejubel di Dunia Maya, saya masih salut dengan mereka-mereka yang masih saja haus untuk membaca buku. Semakin sore, dan gerimis diluar reda. Pengunjung semakin banyak. Sementara saya, asyik membaca buku Komunikasi Massa ditempat baca yang sudah Gramedia sediakan.

Sudah malam, saya pun harus bergegas pergi ke ITC Jalan Kapas. Tak ingin membuang waktu, pilihan untuk naik Teje saya pinggirkan. Alamat, bonceng tiga pilihan saya waktu itu. Bagaimanapun jam 7 saya sudah harus ada disana. Ngeng!

Yogyakarta, Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutemukan Kesetiaan

Analisis Komunikasi Kelompok

Debar Ketakutan