Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Jakarta, Belajarlah dari Jogja

Gambar
"Tidak akan ada penggusuran di daerah bantaran sungai tetapi penataan," ujar Endang selaku Koordinator Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA). Komunitas yang fokus terhadap sungai. Kegiatannya meliputi, konservasi sungai dan pemanfaatan sungai untuk kehidupan masyarakat. Usai film dokumenter buah karya Watchdoc diputarkan. Dengan sedikit ragu, teman disamping kiri saya mengawali tuk bertepuk tangan. Akhirnya, penonton yang ada di Balai RT 49 Kampung Badran bertepuk tangan. Meski tangan sedang sibuk memegang gawai, mengupas kacang, memegang ubi atau menikmati segelas teh panas. Spontan penonton melepaskan demi suara "prok prok prok prok" yang menggema. Sebuah apresiasi atas sebuah karya yang tentu banyak perjuangan dalam pembuatannya. Moderator kembali ke barisan depan. Untuk kembali mengulas film dari berbagai perspektif dari penonton. Awal sebelum layar tancap dimulai, ia sedikit memberi gambaran tentang film yang akan diputar ini. Kasus penggusuran ruma...

Kengerian Jelang Lebaran

Gambar
Tulisan ini mendadak saya buat setelah melihat satu postingan di facebook. Dari akun tersebut saya selalu diberitahu segala hal soal Pandeglang. Salah satunya soal tarif angkutan umum. Kenaikan tarif angkutan yang semena-mena adalah kengerian Pandeglang menjelang lebaran. Idul Fitri dengan segala kebahagiaan di dalamnya, ternyata memunculkan kengerian bagi penumpang angkutan umum secara khusus. Pengalaman dulu, di Pandeglang menjelang lebaran ongkos akan naik dua kali lipat dari biasanya. Ongkos langganan, takan berarti apa-apa. Ketika kenek menyebut sejumlah uang, itulah yang harus dibayar. Dengan cekatan biasanya kenek (baca: kondektur) meminta ongkos pada setiap penumpang. Baru naik, langsung dipinta. Sedang tidur saja, pasti dibangunkan. Tak sedikit, penumpang yang keberatan dengan tarif yang disebutkan memilih beradu mulut, meskipun lagi puasa. Tarif Menes-Pandeglang pakai Kol Mini biasanya 6rb jadi 15rb. Menes-Cigadung pakai Bus, biasanya 2rb atau 5rb, jadi 10-25rb. Dari S...

Kemrungsung yang Mengesankan

Gambar
Dok.Pribadi Di Kos. Sore sebangun tidur usai hadir di acara Kongres Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UAD. Saya kemrungsung karena adzan magrib tiba-tiba berkumandang. Belum padusan dan pun belum juga mandi seharian, semua terkalahkan oleh kantuk yang sempat ditahan semalaman. Alih-alih balas dendam tak terasa saya tidur seharian. Padahal nanti malam tarawih akan digelar. Segeralah saya menuju kamar mandi. Setibanya di depan pintu, saya dikecewakan oleh lampu yang padam. Untung saja kamar mandi satunya bisa digunakan. Lebih terang, meski agak sempit. Setelah shalat magrib, saya kemrungsung (lagi) untuk pergi ke Kotagede. Ekspetasinya datang ke kontrakan, dan menunaikan shalat tarawih disana. Mumpung di depan rumah yang akan saya isi pertengahan bulan ini, biasa digunakan untuk shalat tarawih masyarakat Kampung Alun-alun. Harapan lain, agar saya bisa memanfaatkan kesempatan untuk berkenalan lebih dekat dengan warga. Maklum, warga baru. Sudah siap untuk pergi, saya ajak Novia. Ana...

Dilema Analogi Bapak dan Anak

Gambar
Saat menyanyikan lagu Indonesia Raya di pelantikan anggota baru UKM Pers Mahasiswa POROS UAD. Doc.Poros Setiap senin selama tiga minggu di bulan Mei, saya menjadi teste untuk praktikum salah satu mahasiswa psikologi. Laboratorium terletak di Jalan Kapas, dekat dengan Kampus 1 UAD, dan ITC dimana sekretariat UKM Pers Mahasiswa POROS berada. Usai menjadi teste, saya selalu menyempatkan mampir untuk membaca dua koran nasional langganan sembari menanyakan kabar perkembangan pembekuan POROS. Senin (16/5) adalah hari terakhir saya menjadi teste. Tiap senin selalu berharap ada perkembangan, nihil kabar baik nampaknya belum berpihak pada Poros yang dibekukan oleh Rektorat sejak 27 April. Hampir satu bulan, surat audiensi yang diajukan ke Rektorat tidak direspon dengan serius. Beberapa kali Bintang selaku Pimpinan Umum, menanyakan kabar mengenai kepastian tanggal. Tiap senin saya mampir, tiap senin juga Bintang pergi ke Rektorat. Sebelum pergi, saya selalu bilang “semoga ada k...

Penyiaran Kebencanaan Sebuah Kebutuhan

Gambar
Pamflet diskusi yang bulan lalu saya ikuti. Doc.Jalin Merapi Seseorang berbicara dengan bahasa yang asing di telinga. Spontan saya duduk agak ke depan agar bisa mendengar lebih jelas apa yang sedang pembicara utarakan. Wajar, diskusi sore itu memang di design tanpa menggunakan pengeras suara. Tak jarang volume suara orang didepan saya kalah dengan orang di ruang sebelah. Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian acara dua tahunan dari sebuah LSM di Yogyakarta. Untung, mas-mas yang menjadi translator disampingnya berbicara sedikit lebih kencang dan tentunya dengan bahasa yang tak asing di telinga. Saya spontan angguk-angguk kepala, tanda mengerti. Ternyata, bapak yang sedang bicara sedari saya masuk ruang diskusi adalah perwakilan dari FMYY Japan. Sebuah radio komunitas darurat yang sudah ada sejak bencana gempa bumi di Kobe tahun 1998. Mencoba memahami persoalan dari apa yang diutarakan oleh pembicara-pembicara di depan. Tak lain adalah keinginan masyarakat terkait legali...

Cerita Dibalik Listrik yang Ngambek

Gambar
Sepuluh-an menit menuju adzan magrib. Listrik njegleg tiga kali. Colokan tv, dan segala barang elektronik yang nyolok kami cabut. Kecuali, colokan rice cooker. Kos-kosan yang berada di lantai dua ini diisi oleh tujuh orang perempuan dari berbagai kota. Tak biasanya listrik ngambek begini. Usut punya usut. ** Kamis sore pukul 17.00 WIB. Di jalan menuju kamar seusai mencuci seng rice cooker dan alat makan. Saya bertemu satu perempuan yang hendak menuju dapur dengan membawa alat yang sama, seng rice cooker. Rupanya ia ke dapur bukan untuk mencuci seng yang kotor, tetapi mencuci beras untuk dimasak. Karena kran di dapur hanya ada satu, sementara saya memiliki keinginan yang sama (baca: mencuci beras). Terpaksa saya menunggu gadis asal Palu ini hingga kembali ke kamarnya. Suara sandal yang saya jadikan tanda. Sandal memang selalu kami gunakan di dalam kos. Sandal dalam biasa kami menyebutnya. Sandal jepit ini, khusus digunakan untuk pergi ke dapur dan ke kamar mandi. Suara sanda...

Indonesia (dalam) Bayangan

Gambar
Ditengah maraknya persoalan yang sedang terjadi di negara yang tahun ini memasuki 71 tahun usia kemerdekaannya. Saya kembali mempertanyakan, kemerdekaan apa? yang mana? Persoalan hingga kini semakin menjadi. Indonesia yang katanya menganut sistem demokrasi pancasila. Rasanya hanya ilusi. Buktinya pelanggaran yang harusnya menjadi realisasi pancasila, malah dinodai. Kemanusiaan, dan Keadilan seolah dipermainkan. Dibulan Mei ini saja sudah ada banyak kasus yang terjadi : Mengkritik kebijakan di kampus dibredel, Pelaksanaan sekolah Marx di kampus didatangi FPI, Mengadakan diskusi film/buku yang berbau komunis dilarang, bahkan penerbit buku yang dianggap kiri di intimidasi. Soal kemanusiaan, anak dibawah umur diperkosa hingga meninggal. Kemudian, tersangka hanya dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Ah, indonesiaku. Ketika saya melahap buku terbitan Yayasan Obor Indonesia yang berjudul Mochtar Lubis Bicara Lurus Menjawab Pertanyaan Wartawan. Di pengantar, seorang wartawan be...

Persma Bukan Humas Kampus

Gambar
Jauh hari sebelum Abdul Fadlil bertemu dengan Bintang dan kemudian membredel Poros.             (Baca :  Kronologis Pembredelan Pers Mahasiswa Poros  ) Saya tengah asik membaca buku yang lama tak tersentuh di rak buku. Untuk mahasiswa Public Relations atau Humas semester akhir, sebenarnya telat sekali bila baru membaca ini. Namun karena ke(so)sibukan saya di organisasi yang dianggap dosen tak sejalan dengan prodi. Saya memutuskan, mending telat baca, daripada tidak sama sekali. Bagaimanapun, tugas akhir nanti ya harus tentang  Public Relations , bukan Jurnalistik seperti apa yang saya pelajari 3 tahun di Persma. Begitulah. ** Nah, selesai baca, buku ini saya pinjamkan ke seorang Humas perusahaan swasta Jogja untuk jadi penuntun membuat program kerja. Saya sempat tak percaya, kalau organisasi yang beberapa bulan baru regenerasi ini dibekukan oleh kampus. Usai menerima kabar via sms, segeralah saya pergi ke bulan. Eh bukan, tapi pergi ke...

Jadi Pengusaha, Baru Wisuda

Gambar
Harapannya foto ini bakal bagus. Kapan lagi ke Jember soalnya, wkwk Taken by Mas Rika Fajar Blur! Saya tercengang ketika melihat hasil fotonya. Setelah saya mengabadikan moment menggunakan handphone miliknya dibawah tulisan yang sama. Saya minta gantian, akhirnya ia memegang kamera lagi setelah sekian lama. Namanya Mas Rika Fajar Rahmadi . Percayalah, sebelum blio memfokuskan dirinya pada dunia mesin cetak, tinta dan kertas. Ia dulu sangat mahir sekali dalam hal motret memotret. Bisa dilihat hasilnya di terbitan Poros tahun 2012. Hasilnya tak diragukan lagi. Terbukti dengan Majalah yang mendapat Bronze Winner dari SPS di lomba ISPRIMA. Sayang, setelah usahanya sukses dan project yang tak pernah berhenti. Kini ia lupa bagaimana caranya mengatur speed dan diafragma agar hasil jepretannya keren. Terbukti dengan beberapa hasil potretannya saat di Stasiun Jember (23/02). Menunggu kereta. Tut..tut.. Taken by Mas Rika Fajar Namun begitu, mahasiswa tingkat akhir ini keren di bi...

Rabu Wagu

Gambar
Doc. Eyang Google Malam (17/02) saya putuskan untuk menemani Kartika bertemu dengan Ayahnya di sebuah hotel dekat Stasiun Tugu Jogja. Mobil bus berplat F terparkir rapih di pintu masuk. Setelah memarkirkan kendaraan roda dua, seorang penjaga mengarahkan kami untuk masuk lewat pintu samping untuk sampai di lobby. Hidangan makanan serta orang-orang yang sedang bersantap malam menjadi pemandangan pertama yang kami lihat. Deretan kamar dengan penghuni yang hilir mudik sibuk bersiap untuk pergi, saling menunggu, rapih dan wangi. Orang-orang tersebut merupakan guru serta murid satu sekolah menengah atas di Majalengka. Sudah menjadi agenda rutin tahunan, liburan ke Yogyakarta. Tahun ini destinasi wisata yang akan dikunjungi adalah Pantai Kukup dan Malioboro. Terlihat beberapa murid berduyun menuju Malioboro, beruntung secara geografis letaknya sangat dekat dengan hotel. Ditunggu-tunggu, ternyata Ayah Tiksu begitu sapaan akrabku pada Kartika tengah asik mengobrol dengan adiknya di ...

Menikmati Senja di Pasar Kangen Jogja

Gambar
Kerupuk dari Singkong, salah satu makanan tempo dulu. Taken by : Kartika Dewi Senja mulai menyinari, tepat dibelakang tempat saya menulis kali ini. Angkringan sebelah timur panggung kesenian TBY (Taman Budaya Yogyakarta). Pelan-pelan turun dan sinar mentari semakin pudar hingga tak terasa akhirnya tulisan ini selesai. Banyak orang mengunjungi stand di Pasar Kangen Jogja, salah satu acara tahunan di TBY yang digelar untuk menjadi destinasi baru pariwisata DIY. Seperti yang telah tercantum dalam  press   release . Kegiatan yang akan diselenggarakan dari tanggal 25-30 Agustus 2015 ini dibuka mulai jam 12.00 sampai dengan 21.00 setiap harinya. Kebetulan, saya datang tepat di acara pembukaan (25/08). Setelah mengisi daftar hadir, panitia memberikan  Kreweng  kepada pengunjung.  Kreweng  adalah (uang bulat dari tanah liat yang hanya ada di pembukaan Pasar Kangen Jogja). Seluruh kendaran parkir diluar gerbang TBY, begitu sapaan akrab untuk tempat yan...