Jadi Pengusaha, Baru Wisuda
| Harapannya foto ini bakal bagus. Kapan lagi ke Jember soalnya, wkwk Taken by Mas Rika Fajar |
Blur! Saya tercengang ketika melihat hasil fotonya. Setelah saya mengabadikan moment menggunakan handphone miliknya dibawah tulisan yang sama. Saya minta gantian, akhirnya ia memegang kamera lagi setelah sekian lama. Namanya Mas Rika Fajar Rahmadi. Percayalah, sebelum blio memfokuskan dirinya pada dunia
mesin cetak, tinta dan kertas. Ia dulu sangat mahir sekali dalam hal motret
memotret. Bisa dilihat hasilnya di terbitan Poros tahun 2012. Hasilnya tak diragukan lagi. Terbukti dengan Majalah yang mendapat Bronze Winner dari SPS di lomba ISPRIMA. Sayang, setelah usahanya
sukses dan project yang tak pernah berhenti. Kini ia lupa bagaimana caranya
mengatur speed dan diafragma agar hasil jepretannya keren. Terbukti dengan beberapa hasil potretannya saat di Stasiun Jember (23/02).
| Menunggu kereta. Tut..tut.. Taken by Mas Rika Fajar |
Namun begitu,
mahasiswa tingkat akhir ini keren di bidangnya. Sebelum wisuda Agustus nanti (masih wacana),
blio sudah menjadi owner percetakan di bilangan Jalan Kebun Binatang Gembiraloka. Belum menyandang
sarjana pendidikan saja sudah menjadi pengusaha. Meski tak sejalan dengan
ilmu pendidikannya yang diemban lebih dari 5 tahun. Sepertinya ia sangat mencintai pekerjaannya. Saat menjadi Pimpinan Umum di Persma POROS UAD passionnya memang sudah terlihat dalam hal tersebut. Begitu kata senior dan beberapa rekan seperjuangannya. Lobby dan negosiasinya kece, mulai dari client perusahaan Poros sampai rektorat sudah ia lewati pada massanya dulu.
Kecintaan terhadap dunianya berdampak pada nasib cintanya. Hingga tak berasa syudah agak lama ia jomblo setelah putus dengan kekasihnya yang dipertemukan saat PPL dulu. Wajar saja bila update-an di BBM atau media sosial lainnya agak-agak sendu gimana gitu. Ia memang sedang mencari. Hingga sebelum kami naik kereta untuk kembali ke Jogja. Pun ia tetap berharap bisa bertemu dengan sosok wanita yang mau menjadi pacarnya. Bahkan, ia rela tetap berada di gerbong satu meski sudah kami tawarkan duduk bersama di gerbong empat.
Harapannya sirna, ketika ia hanya bertahan sampai pukul 16.00 WIB di gerbong yang berbeda. Mas yang dulu pernah digebet oleh adek magang ini melampiaskan kegagalannya kepada kami. Sesosok wanita yang akan menjadi korban selanjutnya tak ada. Gerbong sepi dan ia memutuskan untuk pindah. Sepertinya masih dengan harapan yang sama, ia menghampiri kami untuk bertemu dengan sosok wanita impiannya. Nasib berkata lain, bukannya Mas Fajar malah Mba Nanda yang dapet bribikan. Laki-laki di bangku sebelah ternyata sama-sama turun di Lempuyangan. Mba Nanda asik ngobrol, sementara Mas Fajar asik mendokumentasikan.
Balik ke Mas Fajar sebagai pengusaha. Ini bukti bahwa pengalaman
dan proses belajar di organisasi tidak sia-sia. Pada akhirnya, utk menjadi
seorang wirausahawan tidak sesingkat dan semudah belajar kewirausahaan yang cuma 14 kali
pertemuan. Itu pun kalo dosennya rajin masuk, kalo dia juga sibuk dengan
bisnisnya atau bahkan memanfaatkan mahasiswa utk bisnisnya. Demi project, ia sudah biasa pulang pergi Ngawi-Jogja. Semangat bertemu sosok wanita di bis saat perjalanan ternyata menjadi penyemangatnya. Di kereta ia menyatakan akan wisuda di bulan Agustus, bareng dengan Mba Nanda yang juga punya keahlian yang sama di divisi perusahaan. Lihat saja, semoga tidak wacana.
Bagi kamu yang berminat untuk menjadi sosok yang sedang dicari. Silakan bisa add facebooknya, trus lanjut minta pin bbm, nomor wa, Id Line. Bisa juga lho follow instagramnya, cukup aktif juga blio disana.
| Sebelum naik kereta ke Jogja. |
Nb : Catatan ini saya buat terinspirasi dari bully-an saat Upgraiding Pengurus Baru POROS bersama mba Angga. Setelah sukses membuat kantuk hilang, karena tertawa sampai sakit perut.
Komentar
Posting Komentar