Rabu Wagu

Doc. Eyang Google
Malam (17/02) saya putuskan untuk menemani Kartika bertemu dengan Ayahnya di sebuah hotel dekat Stasiun Tugu Jogja. Mobil bus berplat F terparkir rapih di pintu masuk. Setelah memarkirkan kendaraan roda dua, seorang penjaga mengarahkan kami untuk masuk lewat pintu samping untuk sampai di lobby. Hidangan makanan serta orang-orang yang sedang bersantap malam menjadi pemandangan pertama yang kami lihat. Deretan kamar dengan penghuni yang hilir mudik sibuk bersiap untuk pergi, saling menunggu, rapih dan wangi. Orang-orang tersebut merupakan guru serta murid satu sekolah menengah atas di Majalengka. Sudah menjadi agenda rutin tahunan, liburan ke Yogyakarta. Tahun ini destinasi wisata yang akan dikunjungi adalah Pantai Kukup dan Malioboro. Terlihat beberapa murid berduyun menuju Malioboro, beruntung secara geografis letaknya sangat dekat dengan hotel.

Ditunggu-tunggu, ternyata Ayah Tiksu begitu sapaan akrabku pada Kartika tengah asik mengobrol dengan adiknya di kursi lobby tengah. Dari tiga bersaudara, kedua anak Pak Bram (baca: Ayahnya Tiksu) kebetulan melanjutkan kuliah di Kota Wisata ini. Usai asik mengobrol dan berfoto bersama. Handphoneku tiba-tiba berdering, Fara adik manis asal Maluku ini mengajak kami untuk nongkrong di Semesta. Berpamitan pulang pada Pak Bram, kemudian kami menepati janji untuk menyusul ke warung kopi yang selalu menjadi tempat begadang ketika gerbang kos sudah terkunci dan kami takut pulang karena tanggung subuh.

Tak ada jalan lain, lokasi hotel kebetulan sangat dekat sekali dengan warung kopi yang akan kami tuju. Setelah melewati Jembatan Kewek, Tiksu ragu untuk langsung memutar balik. Lokasinya yang berada di kanan jalan, dari arah kami berkendara mengharuskan kami untuk memutar balik. Tepat di depan kafe, akhirnya kami putuskan untuk melanggar rambu lalu lintas. Terlihat jelas memang bahwa sebenarnya tidak boleh putar balik di jalan tersebut. Karena dirasa aman dan tak ada polisi. Tiba-tiba, setelah tukang parkir berteriak “kiri.. yo kiri...” ada seorang pak polisi yang menghampiri. Ia menerangkan bahwa kami salah. Akibatnya STNK Tiksu yang baru selesai perpanjangan pajak dan baru ia terima di hotel tadi oleh Pak Polisi diminta. Kami diinstruksikan untuk datang ke Pos Polisi di depan Gramedia.

Sepanjang jalan kami berkompromi dan berpikir hal lain. Satu yang menjadi keheranan, kenapa polisi Gramedia beroperasi sampai daerah Abu Bakar Ali. Kami tetap melaju dan memilih untuk tak berkabar dengan dua anak yang sudah menunggu di kafe. Tak ada sambutan khusus untuk kami pengendara yang ditilang. Berbeda dengan kenangan tilang beberapa bulan lalu di Jalan Solo. Saat sampai di Pos hanya terlihat ada 5 polisi sedang leyeh-leyeh, tentunya tak dengan pakaian dinas yang lengkap seperti halnya Bapak yang tadi menghampiri kami di Parkiran Kafe. Satu polisi menghampiri sembari bertanya dengan gaya candaannya yang tentunya tak ada apa-apanya bila dibandingkan Hifdzi jebolan Suci 4. Kami disuruh menunggu, karena Bapak itu belum datang di Pos. Beberapa menit kami menunggu, ternyata ia datang dengan membawa korban kedua –tentu kami lah yang pertama-

Tidak biasanya, Pak Polisi menjelaskan mengenai pasal-pasal bukan di ruangannya tetapi di halaman tempat mobil inventaris negara berjejer rapih. Sembari berdiri dan memegang pulpen juga kertas berwarna pink biru yang biasa digunakan untuk menjadi surat pengantar sidang. Ia menjelaskan beberapa kesalahan dan memberitahu pasal apa saja yang telah dilanggar. Pembahasan serius, namun mimik dan gaya bicara tidak seserius pembahasan. Terlebih ketika ia menawarkan, "Mau dibantu gak, dibantu..." sontak kami berdua kebingungan dengan pernyataan tersebut dan kembali mempertanyakan. Ternyata ia menawarkan kemudahan, agar tidak sidang dan pasal pelanggaran berkurang. "Cukup bayar 50ribu saja disini, nanti semua selesai, kamu cuma kena pasal 28 F (begitu sependengaran saya) karena melanggar rambu lalu lintas, untuk SIM nya ndak usah. Pelanggaran rambu kelihatan soalnya, kalo SIM engga," jelasnya pada kami berdua.

Dengan bermain mata, saya selalu memberi sinyal untuk tetap sidang pada Tiksu. Rupanya ia tahu dan mempersilahkan kami untuk berkoordinasi terlebih dahulu. "Sana, koordinasi dulu dengan baik," ucapnya. Saya tetap bersikukuh untuk sidang, Tiksu pun menyatakan hal yang sama. Namun sepertinya Pak Polisi menyesal dengan keputusan kami. Ia memberi waktu lagi untuk Tiksu untuk berpikir, takutnya pilihan itu tak sesuai dengan yang dimau. "Kan kamu (sembari lirik Tiksu) yang salah, gimana keputusanmu? itukan tadi saran dari temanmu," tanyanya kembali pada Tiksu. Beruntung teman saya asal Majalengka itu tetap menjawab "Sidang pak..."

Ia bicara dengan nada yang berbisik. "Kalian kesana aja dulu bentar, saya tak melayani mas-mas itu dulu," ucapnya. Kami berdua agak meminggir, hingga berdekatan dengan dua mobil sitaan kecelakaan di jalan raya. Sembari melirik-lirik mas yang sedang diceramahi, saya mencoba menguatkan Tiksu untuk tetap sidang. Setelah dua mas yang malang itu pamitan. Ia menghampiri, kebetulan kami berdiri didekat motornya. Dengan sigap, ia menaruh kertas pink biru tersebut ke dalam box motor. Saya heran. Sembari berguyon ia kembali bertanya, "gimana jadinya mba?," tanyanya. "Tetap sidang, Pak," ujar Tiksu tegas.

"Jadi begini, ini STNK diambil saja (sembari memberi pada Tiksu). Besok-besok jangan lagi melanggar rambu-rambu lalu lintas ya. Ditaati kalo lihat," ucapnya dengan santai dan tertawa.

Seketika saya dan Tiksu saling pandang sembari tersenyum heran.

Wagu. Sembari melaju di jalan menuju kafe, dari dumelan yang sekian banyak kita curahkan. Kesimpulannya satu, udah dapet duit dia kek malaikat, engga ada duit dia kek ..... (isi sendiri) Setelah Tiksu memberitahu saya, bahwa dia lihat Bapaknya memasukan uang ke dalam saku celana saat melayani mas-mas tadi.

Yogyakarta, 17 Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutemukan Kesetiaan

Analisis Komunikasi Kelompok

Debar Ketakutan