Dilema Analogi Bapak dan Anak
![]() |
| Saat menyanyikan lagu Indonesia Raya di pelantikan anggota baru UKM Pers Mahasiswa POROS UAD. Doc.Poros |
Senin (16/5) adalah hari terakhir
saya menjadi teste. Tiap senin selalu berharap ada perkembangan, nihil kabar
baik nampaknya belum berpihak pada Poros yang dibekukan oleh Rektorat sejak 27
April. Hampir satu bulan, surat audiensi yang diajukan ke Rektorat tidak
direspon dengan serius. Beberapa kali Bintang selaku Pimpinan Umum, menanyakan
kabar mengenai kepastian tanggal. Tiap senin saya mampir, tiap senin juga
Bintang pergi ke Rektorat. Sebelum pergi, saya selalu bilang “semoga ada kabar
baik ya, Tang”. Herannya, Bintang selalu diminta untuk datang lain hari. Terus
begitu hingga tak terasa sudah satu bulan Poros dibekukan.
Di Beskem –begitu biasa
sekretariat kami disebut- saya menunggu Bintang kembali, sembari berdiskusi
dengan pengurus atau magang. Senin sore itu saya dibuat penasaran. Bintang yang
katanya sedang menemui Wakil Rektor III, dari siang hingga sore belum juga terlihat
batang hidungnya. Beberapa menit menjelang adzan magrib, Bintang datang. Dari
apa yang ia ceritakan, satu hal yang membuat saya bertanya-tanya. Kasus Poros
dan Rektorat, lagi-lagi dianalogikan oleh Wakil Rektor III seperti halnya Bapak
dan Anak.
Apa yang saya pertanyakan
sederhana. Sebenarnya, Bapak mana yang UAD contoh dalam hal ini? Hingga
akhirnya, memberhentikan dana kemahasiswaan dan mempersulit peminjaman tempat
itu dinamakan pembinaan. Hal tersebut bahkan diutarakan secara gamblang oleh
Wakil Rektor III di salah satu harian lokal Jogja. Ia bahkan membantah, bahwa
telah melakukan pembekuan. “Apa yang Rektorat lakukan kepada Poros adalah
pembinaan,” begitu ucapnya.
Duh bapak, apa yang sudah
Rektorat lakukan kepada Poros adalah pembekuan. Gerutu saya. Secara sepihak
melarang berkegiatan, dan bahkan tidak mencairkan dana kemahasiswaan. Semua itu
dilakukan hanya karena berita yang menjadi headline di Buletin Kedua edisi
Magang. Kemudian dikaitkan dengan judgement Poros yang selalu menjelek-jelekan
kampus. Padahal, di Bulan Mei sudah ada beberapa agenda yang harus segera di
eksekusi. Diantaranya, Poros Festival, penerbitan buletin reguler, dan
Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL).
Hingga Poros Festival dibatalkan,
rangkaian yang masih dijalankan hanya Bazar Buku, itu pun karena sudah
terlanjur diambil dari penerbit. Ironisnya, acara tidak bisa digelar di hall
kampus II sebagaimana mestinya. Tetapi, on
the road. Mulai dari serambi masjid UGM, museum pendidikan UNY dan sunmor
JEC. Penerbitan buletin diganti dengan buletin edisi pemberedelan, dicetak
dengan dana iuran pengurus. Bahkan, PJTL yang dilaksanakan 27-29 Mei di Desa Wisata
Kaki Langit, Imogiri. Keseluruhan biaya dibebankan kepada peserta dan pengurus.
Tanpa sepeser pun dana dari kampus.
Padahal, Poros adalah UKM yang
sudah mendapatkan bagian dana kemahasiswaan seperti halnya organisasi mahasiswa
lainnya. Uang tersebut berasal dari sisihan uang SPP yang dibayar ke kampus di awal
saat menjadi mahasiswa baru. Semakin banyak mahasiswa yang diterima, berarti
semakin banyak pula uang kemahasiswaan. Seluruh mahasiswa tanpa disadari
membayar, dan secara tidak sadar tahun ke tahun uang tersebut digunakan oleh
organisasi mahasiswa seperti UKM, BEM, HMPS, DPM juga Komunitas untuk ragam
kegiatan rutinnya. Dengan kata lain, uang tersebut dari mahasiswa untuk
mahasiswa.
Ketika pembekuan UKM Poros
dianalogikan sebagai bentuk hukuman Bapak ke Anak. Saya semakin bingung. Saya
pikir, wajar saja bila hal tersebut dilakukan oleh Bapak dalam sebuah keluarga.
Toh, uang yang Bapak punya hasil kerja kerasnya sendiri. Tidak memberi uang
dijadikan sebuah hukuman dan pembinaan, ya wajarlah. Tetapi, hal tersebut
berbeda dengan UAD. Bukankah Bapak mendapat uang dari anak-anaknya yang ribuan
ini? Lantas kenapa dianalogikan sama?
Ketika dana kemahasiswaan dengan
mudah tidak dicairkan oleh BIMAWA, tanpa SK Resmi yang diturunkan Rektor. Saya
pikir ini adalah ancaman besar untuk Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UAD. KBM
harus waspada terhadap pembekuan. Bila Bapak tidak suka, Anak berani
mengkritisi Bapak, dengan suka-suka organisasi tersebut akan dibekukan.
Waspada.
Kembali ke pertanyaan. Bapak mana
yang UAD contoh?
Saya belajar sosok Bapak dari
film dan buku yang sudah saya lahap. Film pendek berjudul Demi Ucok menceritakan
soal Ibu yang merangkap sebagai Ayah, karena single parents. Tak henti menyuruh
anaknya untuk menikah. Namun, sang anak tidak mau. Karena mimpinya untuk
membuat film belum tercapai. Ibunya akan bantu mencarikan biaya untuk produksi
Film, tetapi sebagai syarat, Glo –anaknya- harus menikah dulu dengan lelaki
Batak. Ia selalu menolak. Hingga mereka bertengkar, pisah rumah, dan ibunya
jatuh sakit. Tetapi karena kekuatan cinta Ibu kepada Anak, akhirnya ibu
mengalah. Hingga sang Ibu bersedia menjadi aktor utama di filmnya yang berhasil
premiere di bioskop. Kasih ibu hanya memberi tak harap kembali, begitu kata Mak
Gondut, makanya ia mendukung keinginan anaknya.
Berbeda lagi dengan sosok Bapak
yang diceritakan dalam novel etnografis karya A.Sonjaya. Orang Nias dikenal selalu
terbuka dan terang-terangan saat membahas segala persoalan. Misalkan saja, saat
perhitungan babi untuk pesta perkawinan. Jika kurang, maka akan dikatakan
langsung kurang. Bahkan dalam sebuah pesta, bila saja babi dirasa kurang. Orang
Nias tak sungkan untuk berteriak, “tidak punya babi kok beraninya bikin pesta”.
Tetapi kepada Mahendra, anak angkatnya dari Jogja. Ama Budi menyatakannya
secara tidak langsung dan berbelit-belit seperti orang Jawa. Ama Budi paham,
dengan siapa ia berhadapan.
Bahkan Umbu, tak pernah mengintervensi
anaknya untuk mencintai sastra. Meskipun ia menjadi menjadi guru bagi budayawan
Jogja. Bahkan hingga akhir hayatnya, ia mencintai sastra. Umbu sosok yang sulit
ditemui oleh anak-anaknya, bila pun menemui hanya sebentar dan kemudian ia
pergi lagi. Sastrawan asal Sumba ini, lama menetap di Jogja dan Bali. Meski
keluarga besarnya berada di Sumba, namun sorot matanya tak bisa berbohong bahwa
ia sangat mencintai anak dan keluarga besarnya. Caranya mencintai tidak selalu
harus ada didekat terus menerus. Ia memiliki cara tersendiri untuk menemui seseorang, dan sering kali tidak terduga. Dalam hal hidup, kita harus tegar dan tabah. Barangkali karena itu juga ia selalu berusaha mandiri, jauh dari sanak saudara. Kata Rambu, putri kedua Umbu.
Dari kisah singkat diatas,
terlihat bahwa hubungan Bapak dan Anak adalah hubungan personal. Individu dan
individu. Bukan layaknya hubungan organisasi seperti, Rektorat dan POROS.
Karena dalam hal ini, ada dua sistem yang tidak bisa disamakan. Rektorat
sebagai petinggi kampus punya sistem. POROS sebagai UKM pun punya sistem. POROS
bukan individu, tetapi kelompok yang segala aktivitasnya memiliki tujuan sesuai
dengan minatnya yaitu jurnalistik. Anak tidak perlu membuat Lembar
Pertanggungjawaban (LPJ) tertulis kepada bapaknya. Sedangkan, POROS wajib
memberikan LPJ paling lambat dua minggu setelah kegiatan ke BIMAWA.
Bila akhirnya kampus
menganalogikan dirinya sebagai Bapak. Lantas sosok Bapak mana yang dijadikan
contoh oleh UAD? Ada ribuan mahasiswa yang belajar di kampus, dengan begitu ada
ribuan sosok Bapak juga yang dapat dicontoh. Dalam hal ini, Pers Mahasiswa
mengeluarkan karya dan menjalankan proses reportase sesuai dengan kode etik
jurnalistik. Meski amatir, tetapi di wadah ini seharusnya mahasiswa bisa belajar
untuk profesional.
Ketika Bapak tidak terima dengan
pemberitaan. Bapak malah marah satu bulan. Tidak memberi dana kemahasiswaan. Tidak
memberi kepastian soal surat audiensi yang sudah dilayangkan. Kenapa tidak
balik mengajarkan bagaimana caranya menulis hak jawab ketika ada berita yang dipersoalkan.
Agar minat mahasiswa yang ingin menjadi jurnalis ini, benar-benar didukung dan
dianggap ada oleh kampus. Saya heran.
Berbisik seseorang berkata, ini
bukti kampusmu masih diisi antek-antek orbais Dik. Ada pepatah, logika tanpa
logistik tidak jalan. Seusai mampir di beskem, saya memutuskan untuk makan
terlebih dahulu. Siapa tau setelahnya akan mendapat jawaban. Hingga kepala ayam
dan tempe gembos dari angkringan habis dimakan. Tetap saja, saya belum mendapat
jawaban. Bahkan, hingga tulisan ini selesai dan pembekuan sudah satu bulan.
Haruskah saya lari ke hutan, lalu ke pantai untuk mendapat jawaban?
Tuntungan, 02 Juni 2016

Komentar
Posting Komentar