Kemrungsung yang Mengesankan

Dok.Pribadi
Di Kos. Sore sebangun tidur usai hadir di acara Kongres Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UAD. Saya kemrungsung karena adzan magrib tiba-tiba berkumandang. Belum padusan dan pun belum juga mandi seharian, semua terkalahkan oleh kantuk yang sempat ditahan semalaman. Alih-alih balas dendam tak terasa saya tidur seharian. Padahal nanti malam tarawih akan digelar. Segeralah saya menuju kamar mandi. Setibanya di depan pintu, saya dikecewakan oleh lampu yang padam. Untung saja kamar mandi satunya bisa digunakan. Lebih terang, meski agak sempit.
Setelah shalat magrib, saya kemrungsung (lagi) untuk pergi ke Kotagede. Ekspetasinya datang ke kontrakan, dan menunaikan shalat tarawih disana. Mumpung di depan rumah yang akan saya isi pertengahan bulan ini, biasa digunakan untuk shalat tarawih masyarakat Kampung Alun-alun. Harapan lain, agar saya bisa memanfaatkan kesempatan untuk berkenalan lebih dekat dengan warga. Maklum, warga baru.
Sudah siap untuk pergi, saya ajak Novia. Anak Magelang satu kos, yang nantinya akan pindah juga ke Kotagede. Usut punya usut, ternyata dia masih bingung akan puasa kapan.
“Ikut pemerintah mbak,” katanya.
“Aku lagi tanya bapak,” timpalnya saat saya ajak ke Kotagede untuk tarawih.
“Berarti kamu nunggu sidang isbath dulu dong ya,” gumam saya.
“Iya,” jawabnya seraya menyalakan tv yang ada di ruang tengah, dan memilih Tvone juga Metrotv secara bergantian bila iklan.
Banyak masyarakat menunggu sidang isbath lebih dulu untuk memastikan awal Ramadhan. Meskipun konferensi pers Menteri Agama digelar saat memasuki waktu shalat isya. Mereka rela menunggu demi sebuah kepastian. Meski letak mesjid jauh dari rumah, tetapi jika pemerintah memutuskan puasa pertama besok hari dan iqomah dari toa langgar sudah berbunyi . Maka, apapun yang terjadi mereka rela berlari demi sampai mesjid, dan merayakan kebahagiaan menyambut Ramadhan.
Hingga kumandang adzan isya usai. Via belum memberi kepastian akan ajakan saya tadi. Menunggu dan ternyata kandas. Via memilih pulang ke Magelang, setelah temannya memberi kepastian esok kuliah diliburkan. Putusan yang menyesakan di tengah penantian. Akhirnya, (lagi-lagi) saya kemrungsung untuk pergi ke mesjid. Padahal, jarak Tuntungan-Kotagede tak bisa dengan sekerdipan mata. Harus melewati tiga lampu merah, beberapa pertigaan dan satu perempatan. Saya ngebut, dan ternyata terlambat. Ekspetasi tak sesuai dengan realita. Tarawih disana sudah dimulai. Saya membelokan motor untuk pergi ke mesjid terdekat untuk shalat.
Saya memilih Mesjid Perak.
Beruntung. Saya masih bisa shalat isya, karena tarawih belum dimulai disana. Meski dengan kemrungsung, dan berdiri sendirian di tengah jamaah. Saya berhasil mengakhiri shalat, berbarengan dengan pengurus mesjid yang mengucap salam untuk membuka beberapa informasi yang akan disampaikan. Saya duduk manis mendengarkan. Alih-alih sengaja pergi tarawih ke Kampung Alun-alun buat silaturahmi dengan masyarakat dan gagal. Di Mesjid Perak – Kotagede, saya benar-benar merasakan. Ya, meski bukan dengan tetangga baru.
Saya bersalaman dengan kurang lebih seratus-an jamaah perempuan. Sebelum melaksanakan shalat tarawih, mesjid yang bersebelahan dengan SMA Muhammadiyah ini dibudayakan untuk saling memaafkan sebelum melaksanakan puasa di Ramadhan pertama.
“Perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki,” begitu kata pengurus mesjid.
Sembari mendengungkan asma Allah, jamaah berkeliling dari shaf ke shaf untuk bersalaman. Setiap jamaah menebar senyum, hingga kembali ke tempat semula. Untuk saya yang tak kenal satu pun dari mereka, dengan mudah bisa merasakan sakralnya moment tersebut. Terlihat beberapa jamaah saling berpelukan, cipika-cipiki bahkan ada yang menangis. Mereka yang saling kenal dan saling memaafkan.
Budaya sambut Ramadhan tersebut saya alami di Mesjid yang baru di bangun kembali pada tahun 2013 oleh Din Syamsudin selaku Ketua PP Muhammadiyah saat itu. Tak hanya budaya maaf-maafannya. Ternyata di Mesjid Perak sebelum shalat tarawih, diawali dulu dengan shalat sunah dua rakaat. Saya bingung, kenapa imam tidak membaca lantang al-fatihah. Rupanya, Al-Fatihah dibaca lantang ketika memasuki rakaat ketiga atau awal rakaat tarawih.
Sebelas rakaat, dengan pembagian salam setelah 4 rakaat – 4 rakaat. Kemudian, jamaah kembali duduk manis untuk mendengarkan kultum. Di Mesjid Perak, kultum dilangsungkan sebelum shalat witir. Biasanya saya mendengar kultum sebelum shalat tarawih dimulai. Dari perbedaan-perbedaan itulah kemudian saya belajar.
Di tarawih pertama Ramadhan saya ke 22 ini, realita tak sesuai dengan ekspetasi dan harap tak terpenuhi. Dalam suasana kemrungsung. Saya beruntung dan bahagia bisa kembali shalat di Mesjid Perak. Setelah satu tahun tidak menyambangi. Dulu, saya pernah shalat tarawih juga disana dengan Labina. Pertengahan Ramadhan, dan kala itu kita diberi gudeg gratis untuk berbuka puasa. Benar kata pepatah, jangan lupa bersyukur apapun yang terjadi. Karena kebaikan tidak selalu datang dari sesuatu hal yang diharap-harapkan. Bisa jadi spontan, dan kemudian lebih mengesankan.
Marhaban Ya Ramadhan. Selamat berpuasa.
1 Ramadhan 1437 H | Tuntungan, 06-06-2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutemukan Kesetiaan

Analisis Komunikasi Kelompok

Debar Ketakutan