Jakarta, Belajarlah dari Jogja


"Tidak akan ada penggusuran di daerah bantaran sungai tetapi penataan," ujar Endang selaku Koordinator Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA). Komunitas yang fokus terhadap sungai. Kegiatannya meliputi, konservasi sungai dan pemanfaatan sungai untuk kehidupan masyarakat.

Usai film dokumenter buah karya Watchdoc diputarkan. Dengan sedikit ragu, teman disamping kiri saya mengawali tuk bertepuk tangan. Akhirnya, penonton yang ada di Balai RT 49 Kampung Badran bertepuk tangan. Meski tangan sedang sibuk memegang gawai, mengupas kacang, memegang ubi atau menikmati segelas teh panas. Spontan penonton melepaskan demi suara "prok prok prok prok" yang menggema. Sebuah apresiasi atas sebuah karya yang tentu banyak perjuangan dalam pembuatannya.

Moderator kembali ke barisan depan. Untuk kembali mengulas film dari berbagai perspektif dari penonton. Awal sebelum layar tancap dimulai, ia sedikit memberi gambaran tentang film yang akan diputar ini. Kasus penggusuran rumah rumah bantaran sungai yang dialami diwilayah perkotaan, namun ini ceritanya di Jakarta.

** 
Jakarta Unfair, menggambarkan suasana pra, hari H dan pasca penggusuran di wilayah Bukit Duri, Kali Jodo, Pulo bahkan Tangerang. Untungnya segera terbit putusan Ombudsman RI yang menyatakan untuk Tangerang adalah wewenang Pemprov Banten, bukan Jakarta.

Seorang warga Bukit Duri mengingat pesan Jokowi saat kampanye sebagai calon Walikota Jakarta. Ia sangat menghindari yang namanya penggusuran. Tetapi, dibawah pimpinan wakilnya yaitu Ahok. Sejak 2015, Pemprov Jakarta doyan gusur rumah warga khususnya yang berada di Bantaran sungai.

Dalih untuk kawasan hijau dan faktor utama banjir Jakarta. Warga yang digusur dialihkan ke Rumah Susun yang tiap bulannya mereka harus membayar sewa. Warga kehilangan pekerjaan, tidak nyaman dengan kondisi rusun yang tidak sesuai harapan, bahkan lokasinya yang berada jauh dipinggiran. 

Sekilas, Pemprov jadikan para pendatang sebagai komoditas yang bisa menguntungkan Jakarta. Setiap yang datang harus bayar untuk tinggal, tidak bisa lagi di bantaran sungai. Melainkan harus bayar sewa rumah susun. Hingga banyak warga yang menunggak pembayaran. Uang yang didapatkan perbulan, sudah digunakan untuk kebutuhan lain seperti membayar anak sekolah, dll. Tidak cukup untuk membayar sewa Rusun.

Warga korban penggusuran tak sedikit yang rindu dengan kebiasaan dan rumahnya yang dulu. Ada yang menyempatkan main tuk sekedar nostalgia, "disini nih rumah saya dulu". Peringatan tujuh hari penggusuran menjadi penutup film ini, dengan satu nyanyian bersama dari warga korban penggusuran.

** 


Sembari menikmati hidangan yang disiapkan panitia. Moderator memanggil Bu Endang untuk berbicara mengenai kondisi sungai dan bantaran di Jogja. Khususnya Sungai Winongo. Ada hal yang menarik, bahwa dari lembaganya tersebut tidak pernah terpikirkan untuk menggusur rumah yang berada di pinggiran. Katanya, bantaran sungai boleh dimanfaatkan. Asalkan waspada saja dengan bencana banjir. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi bencana tersebut. Tentunya dengan tetap memanusiakan manusia. Karena tidak bisa dipungkiri, biaya untuk membangun rumah di kota besar mahal harganya. Terutama bagi pekerja yang UMR nya kecil, seperti di Jogja. Jadi wajar bila orang orang bermukim disekitar sungai.

Di Jogja. Aturannya, batas pembangungan rumah tidak boleh melewati talud -pengaman sungai-. Meski di beberapa kampung ada warga yang membandel, pihaknya tak menyarankan pemprov untuk menggusur. 

Lewat dana yang disediakan oleh pemerintah provinsi, komunitasnya membantu rumah tersebut agar tak lagi melewati talud. Setelah diupayakan, akhirnya berhasil. Untuk menata kali (sungai) FKWA menggunakan konsep M3K (Mundur, Munggah, Madep Kali) artinya mundur, naik dan menghadap sungai. Selain talud, antisipasi banjir bisa dengan memperbanyak daerah resapan air dan perbaiki drainase jalanan. Jangan biasakan hanya mengambil air, tetapi mengembalikannya juga. Jangan plester atau semen tanah.

Hari ini ia baru saja mendapat kunjungan dari Papua. "Sayang kalo sudah jauh jauh ke Jogja, tapi gak keliling sungai," begitu ungkapnya. Sudah pasti tujuannya agar orang-orang dari Papua bisa lihat bagaimana kondisi sungai di Jogja secara langsung.

Ketika Papua saja jauh-jauh belajar dari Jogja, kenapa Jakarta tidak? Sepertinya bisnis rumah susun lebih menggiurkan, dibanding belajar konservasi sungai.


Kotagede, 13 November 2016
Usai nobar di Kampung Badran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutemukan Kesetiaan

Analisis Komunikasi Kelompok

Debar Ketakutan