Pertemuan KETIGA
DIGITALISASI SURAT KABAR
DI SUSUN OLEH :
R.NURUL FITRIANA PUTRI
WIRA PRAKASA NURDIA
YUNIARTI KRISTINA
ALFIAN NUR FAJRI
M. FEBRYANTONO
YOGA ADETAMA
FAKULTAS SASTRA BUDAYA DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
2013
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sekarang ini anda sedang membaca surat kabar, apa yang
ada dalam benak anda? Pernahkah anda membayangkan bagaimana nasib surat kabar
kesayangan anda ini hadir dalam edisi cetak sepuluh, dua puluh atau empat puluh
tahun yang akan datang? Apa mungkin kita masih bisa membaca berita dari
lembaran halaman surat kabar, sambil menikmati secangkir kopi dihalaman rumah
atau kantor, jawabannya “mungkin saja iya” atau “mungkin saja tidak”.
Phillip Meyer seorang penulis buku yang berjudul “The
Vanishing Newspaper” meramalkan koran terakhir yang terbit adalah pada april
2040. Hal ini bisa dilihat dari mulai berjamurnya berita yang disajikan dalam
bentuk digital serta peminatnya banyak.
Kebiasaan membaca surat kabar merupakan hal yang rutin
dilakukan hampir semua orang, semua informasi yang bertebaran diseluruh muka
bumi dapat kita temukan hanya dengan membaca berita yang telah dirangkum dalam
sebuah surat kabar maupun majalah.
Hadirnya media cetak seperti halnya surat kabar sangat
membantu masyarakat dalam menemukan informasi terkini seperti, berita nasional
dan daerah, info kesehatan, info bisnis, lowongan kerja, penawaran barang atau
jasa melalui media iklan, serta banyak hal positif lain yang dapat diperoleh
melalui surat kabar. Semenjak
kehadiran internet, pola kehidupan masyarakat dunia sedikit demi sedikit terus
berubah. Masyarakat terasa begitu dimanjakan oleh teknologi. Ditemukannya
Komputer, Handphone, Gadget, PDA, sedikit demi sedikit telah merombak wajah
lugu masyarakat kita.
Sekarang kita bisa melihat, bagaimana internet
memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap sikap dan perbuatan sebagian
masyarakat kita, hampir seluruh masyarakat kota sudah sangat dekat dengan
internet, masyarakat desa juga mulai terpengaruh oleh keadaan yang memaksa
mereka untuk maju dengan menggunakan teknologi. Internet telah merobohkan tembok
pembatas antar informasi yang selama ini hanya dapat di telusuri melalui media
cetak, seperti surat kabar dan majalah . Kini dengan hanya melakukan browsing
melalui perangkat komputer atau gadget menggunakan internet, kita dapat
mengetahui berbagai jenis informasi yang ada. Terdapat ribuan situs surat kabar
digital yang tersebar diinternet. Para penerbit surat kabar tersebut sebelumnya
selalu berkecimpung dalam surat kabar edisi cetak. Tetapi karena faktor
persaingan dan untuk mengatasi keterpurukan, mereka terpaksa membagi berita melalui
edisi cetak dan digital.
Kita bisa melihat bagaimana ambruknya perusahaan surat
kabar di Amerika Serikat (AS), kejadian tersebut bukan disebabkan oleh buruknya
kualitas jurnalisme, tetapi lebih karena berkurangnya pembeli surat kabar edisi
cetak yang mengakibatnya berkurangnya pendapatan iklan melalui surat kabar
edisi cetak, pembaca lebih memilih membaca surat kabar dalam bentuk digital
melalui media komputer atau gadged karena berita yang ditampilkan cenderung
lebih baru.
Menurut survei Nielsen Media Research di sembilan kota
di Indonesia (populasi 43,87 juta dengan umur 10 tahun ke atas), pada kuartal
III 2009, konsumsi koran justru mencapai titik terendah dalam lima tahun
terakhir (awal 2005 mencapai 28 persen, tetapi terus menurun tinggal 18 persen
pada kuartal III 2009). Konsumsi majalah pun turun dari 20 persen menjadi 11
persen, tabloid turun dari 20 persen menjadi 13 persen). Hal ini membuktikan
betapa sulitnya surat kabar edisi cetak sekarang ini berkembang.
Sebanyak 34 persen dari pembaca koran adalah pengguna
internet dan 41 persen pembaca koran juga mengakses berita lokal dari internet.
Sejak 2006, persentase pengguna internet yang berusia muda terus bertambah,
dari 12 persen menjadi 20 persen (usia 10-14 tahun) dan dari 24 persen menjadi
33 persen (usia 15-19 tahun), sedangkan untuk usia 20-29 tahun turun dari 40
persen menjadi 30 persen (http://newspaper.pikiran-rakyat.com).
B. Rumusan Masalah
-
Apa sejarah
Surat Kabar
-
Apa yang
disebut digitalisasi Surat Kabar
-
Kekurangan
dan kelebihan Surat Kabar digital dibandingkan dengan tradisional
ISI
A. SEJARAH
SURAT KABAR
Koran atau surat kabar adalah suatu media penerbitan yang ringan dan mudah
dibuang. Koran menggunakan kertas bermutu rendah yang kemudian dapat didaur
ulang atau digunakan untuk berbagai macam keperluan. Koran berasal dari bahasa
Belanda ‘Krant’ atau yang lebih menyerupai lafalnya adalah dengan bahasa
Perancis yaitu‘Courant’. Bagaimanakah sejarah Koran dan surat kabar yang selama
ini sudah menjadi santapan sehari-hari? Dari segi sejarah, Surat kabar di buat
pertama kali orang seorang berkebangsawanan Inggris bernama Benjamin Harris pada tahun 1690 di Amerika Serikat. Surat
Kabar tersebut di beri nama ‘Public Occurances Both Foreign and Domestick’.
Namun surat kabar tersebut di berhentikan dan tidak boleh beredar oleh karena
tidak adanya izin terbit. Di saat itu muncul kekhawatiran bahwa mesin-mesin
cetak yang digunakan akan menerbitkan berita-berita yang menggeser kekuasaan
pihak colonial dan pejabat agama. Setelah negara Amerika Serikat berdiri
barulah bermunculan surat-surat kabar. Namun oleh karena Interfensi politik
maka surat kabar bersifat subjektif dan tidak memuat berita secara objektif.
Washington dan Jefferson yang merupakan penguasa saat itu menggunakan surat
kabar sebagai alat untuk menjatuhkan satu dengan yang lainnya.
Kondisi semacam ini membuat rakyar menginginkan amandemen yang menjamin
kebenaran berita dalam surat kabar . Pada awalnya amandemen ini tidak dapat
bekerja dengan efektif sampai terbitnya ‘The Herald’ oleh James Gordon Bennet.
The Herald membuat isu politik di bagian depan dan sisanya berisi isu bisnis,
kehidupan sosial dan sebagainya. Setelah The Herald muculah New York Tribune
yang di dominasi oleh pembaca dari kalangan petani.
Pada masa Lincoln muculah New York Times yang menambah ramai pangsa pasar
surat kabar tersebut. Setelah perang saudara di Amerika Serikat munculah
Pulitzer dengan New York World. Pulitzer adalah penerbit pertama yang
menerbitkan surat kabar mingguan. Sepeninggal Pulitzer, New York World mencapai
kesuksesaannya yang terbesar dengan terkenalnya ia dengan sebutan ‘wartawannya
surat kabar’. New York World saat ini memegang dua buah majalah terkenal dan
laris, Good Housekeeping dan Cosmopolitan.
Kondisi persurat kabaran di Indonesia juga mengalami pergolakan yang sama
dengan persuratkabaran di Amerika Serikat dan sekitarnya. Dalam sejarahnya
surat kabar dan koran di Indonesia juga mengalami pembredelan untuk melindungi
kepentingan politik atau penguasa tertentu. Hal ini sangat dirasakan dalam masa
orde baru. Menurut sejarah surat kabar dan koran, surat kabar dan koran di
Indonesia di cetuskan oleh Pemerintahan Belanda. Pada saat itu muncul banyak
surat kabar seperti Bintang Timur, Bintang Barat, Java Bode dan sebagainya.
Pada masa penjajahan Jepang surat-surat kabar tersebut di larang dan
digantikan dengan Suara Asia, Sinar Matahari, Suara Asia, Asia Raja dan
Tjahaja. Setelah masa kemerdekaan peran-peran surat kabar mulai di gantikan
dengan Radio Republik Indonesia. Pada massa kemerdekaan sampai dengan jatuhnya
Orde lama, surat kabar berada di dalam kendali penguasa dan pemerintah.
Reformasi pada tampuk pimpinan B.J Habibie membuka kebebasan pers bagi
Indonesia yang di atur dalam Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik
yang di keluarkan oleh Dewan Pers.
B.
Pengertian Digitalisasi Surat Kabar
Koran digital atau (bahasa Inggris: e-paper) termasuk ke dalam media yang dimengerti sebagai sarana komunikasi seperti pers, media, media penyiaran (broadcasting) dan sinema yang merujuk pada berbagai institusi atau bisnis yang berkomunikasi dengan para pembaca.
Koran digital ini merupakan koran yang dapat diakses melalui media
elektronik seperti komputer atau mobile handphone. Karena
perkembangan teknologi, koran yang tadinya berbentuk cetaksurat kabar kini tak lagi berbentuk fisik melainkan berbentuk digital atau elektronik. Dalam hal inilah koran mengalami
proses digitalisasi dan sudah banyak media massa yang mengembangkan teknologi koran digital ini
dan membuat bentuk online dari koran cetak.
Koran digital berisi pesan-pesan atau berita untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai hal aktual atau yang baru saja
terjadi. Prinsipnya sama seperti media cetak namun dikategorikan ke dalam media elektronik karena proses bekerjanya berdasar pada prinsip elektronik.
Koran digital berkembang pesat sejalan
dengan berkembangnya internet yang mulai dipopulerkan pada tahun 1982. Koran digital muncul sebagai bentuk
perkembangan teknologi komunikasi dan sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang membutuhkan persebaran informasi yang cepat, mudah, dan instan. Salah satu koran nasional yang mempelopori berkembangnya koran digital ini adalah koran Kontan yang
mulai membuat koran dalam bentuk digital pada 2 Juli 2008 silam.
Hari berikutnya, giliranKompas membuat koran digital Kompas. Dua koran nasional lain yang menjadi pelopor
digital adalah harian Republika dan Tempo.
C.
Kelebihan dan Kekurangan dari Surat Kabar Digital juga Surat Kabar
Tradisional
Walaupun media cetak sekarang ini terasa tenggelam oleh kehadiran media
digital. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan yang terdapat dimasing-masing
media tersebut, adapun kelebihan Surat Kabar Tradisional,
yaitu :
1.
Harganya
dapat dijangkau oleh semua kalangan,
2.
Berita yang
disampaikan lebih banyak dan mampu menjelaskan secara lengkap,
3.
Dapat dibaca
berkali-kali dengan cara menyimpannya,
4.
Mudah dibawa
kemana – mana.
kekurangan Surat kabar tradisional, yaitu :
(1) Berita
yang tampil bukan merupakan berita terbaru (berita kemaren).
(2) Biaya
untuk memproduksi media cetak lebih besar dibandingkan media digital,
(3) Waktu
yang dibutuhkan untuk mendistribusikan media cetak cenderung lebih lama.
Demikian
juga halnya dengan media digital yang memiliki kelebihan dan kekurangannya.
kelebihan surat kabar digital yaitu,
1.
Informasi
(berita) dapat disampaikan secara cepat,
2.
Biaya
produksi cenderung lebih murah.
3.
Kejadian
suatu berita dapat diberitakan secara langsung.
Sedangkan kekurangan
surat kabar digital :
1.
Hanya bisa
di baca di tempat tertentu, karena membutuhkan perangkat pendukung seperti
komputer, gadget dan PDA, yang sebagian memerlukan koneksi internet untuk dapat
mengakses sebuah situs berita.
2.
Tidak semua
masyarakat mengerti menggunakan media komputer dan sebagainya.
Kehadiran surat kabar dan majalah dalam bentuk cetak
telah begitu melekat dalam kehidupan masyarakat kita, sehingga jika edisi cetak
tidak lagi terbit, tentu akan menghilangkan tadisi budaya membaca surat kabar
dan majalah secara utuh. Peran surat kabar lokal (daerah) misalnya, memberikan
kontribusi yang besar terhadap perkembangan daerah, dimana surat kabar itu
terbit. Masyarakat juga selalu membutuhkan informasi berita lokal dibandingkan
berita nasional maupun internasional.
Kita hanya bisa berharap agar hadirnya berita melalui
media digital tidak akan memberi pengaruh yang besar bagi perkembangan media
cetak kedepannya. Hadirnya kedua media tersebut diharapkan, bisa saling
melengkapi baik kekurangan maupun kelebihannya. Masyarakat juga akan selalu
berharap agar berita yang disajikan baik dalam bentuk media cetak maupun media
digital, dapat memberi pengaruh positif dan bermanfaat bagi pembacan ya.
Tak hanya
itu ternyata, dgitalisasi surat kabar berlaku juga di perpustakaan-perpustakaan
kampus hal itu dilakukan karena Guna memudahkan mahasiswa,
pelajar dan masyarakat dalam mengakses informasi diperlukan Digitalisasi arsip
artikel dan berita surat kabar yang lengkap. Hal tersebut disampaikan oleh
pustakawan Universitas Cornell Amerika Serikat Jeffrey Petersen, dalam Diskusi
Arsip Digital di Perpustakaan Universitas Gajah Mada Yogyakarta hari ini Jumat
27 Mei 2011. Dan menurutnya Digitalisasi surat kabar tersebut juga untuk
mengatasi keterbatasan ruang penyimpanan surat kabar di perpustakaan.
Pada diskusi arsip digital tersebut dia mengatakan jika
mengoleksi berbagai macam surat kabar cetak, perpustakaan tentu membutuhkan
banyak ruang. Sementara ruang perpustakaan justru sangat terbatas. Untuk itu
perlu dikemas dan mengarsipkannya menjadi ‘file’ digital yang dapat diakses dan
disimpan dalam perangkat lunak komputer. Tentunya ini akan memberikan efisiensi
bagi perpustakaan. Digitalisasi arsip surat kabar telah dapat mengatasi
permasalahan turunnya anggaran di perpustakaan-perpustakaan universitas di
Amerika Serikat. Dan mampu meminimalkan anggaran untuk membeli surat kabar.
Di Indonesia rencananya akan diadakan digitalisasi arsip
artikel dan berita surat kabar tersebut yang pelaksanaannya atas kerjasama
Universitas Cornell Amerika Serikat dengan Universitas Indonesia dalam waktu
dekat ini. Hal tersebut tentunya akan disambut dengan gembira oleh mahasiswa
dan masyarakat Indonesia. Mudah-mudahan kerjasama ini dapat terjalin dengan
lancar, sehingga nanti kita akan memperoleh informasi yang lengkap pada
perpustakaan-perpustakaan di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Nasib%20Media%20Cetak%20Di%20tengah%20Era%20Digital&&nomorurut_artikel=422 ( 20.30 WIB Tanggal 01/4/2013 )
( 19.00 WIB
Tanggal 01/04/2013 )
Komentar
Posting Komentar