Kini Tayangan Televisi (selalu) Menghilangkan Fungsi
"Sembari mendengar alunan lagu demi lagu di warung kopi"
Terbesit akan tayangan yang sebentar lagi akan menjadi perbincangan dan tontonan para pecandu televisi di negeri ini. Sebuah tayangan yang menurutku sama sekali tak memberikan edukasi untuk penonton. Bagaimana tidak, rasanya mereka (penonton) seperti dijejali dengan informasi yang seharusnya tak harus mereka dapatkan. Bukankah penonton di Indonesia rata-rata kelas menengah ke bawah? Bagaimana jika ada kecemburuan sosial? Dari pertanyaan saja dapat disimpulkan bahwasannya penonton tak usah disajikan tayangan semacam itu. Pembodohan yang tanpa disadari.
Sedikit membahas tentang fungsi penyiaran, diantaranya : edukasi, informasi dan hiburan. Dalam hal ini ketiganya harus seimbang. Lebih berat pada fungsi edukasi itu lebih baik daripada hanya menekankan fungsi hiburan yang nyatanya menjadi ladang bullying dan lelucon tak wajar. Miris ketika akhirnya tayangan semacam itu yang menjadikan para awak televisi berlomba-lomba untuk menyaingi stasiun televisi tetangga. Acara mirip bak bakteri menyebar dimana-mana. Hati-hati!
Hanya dijadikan ladang keuntungan
Kendati keuntungan yang melambai, akhirnya para pemilik media tergiur oleh ladang bisnis semacam itu. Privasi orang kini mulai diumbar, artis dengan gila eksistensi lupa akan hak penonton. Makin-makin aja banyak orang yang melanggar aturan mengenai penyiaran. Namun pelanggaran itu tak seperti pelanggaran lalu lintas yang harus segera diselesaikan. Disini KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) selaku komisi yang mengawasi segala tayangan televisi asik dinina bobokan oleh kepentingan. Tayangan edukasi sekarang bak mimpi yang takan pernah terjadi. Masyarakat sebagai penonton televisi secara tidak langsung menjadi rebutan para awak televisi yang melupakan fungsi.
Mulailah dari Kita
Sekarang, tak perlu berharap banyak mereka yang akan bangun dari mimpi panjangnya. Mulailah dari kita, jadilah penonton yang cerdas. Matikan saja TV mu, bila itu tak sesuai dengan fungsi penyiaran. Ketika kita larut dalam tayangan, banyak awak yang mengambil keuntungan sementara kita (penonton) merugi.
Redup lampu dengan segelas air teh hangat tanpa siaran televisi, menambah kesyahduan hujan malam tadi.
Yogyakarta, 30 November 2014
De'Kongkow
Komentar
Posting Komentar