♥ 24 is My Day ♥
Hari
ini disuatu tempat yang Cuma ada mereka berdua, Galva dan Rey bertemu tak
biasanya rey berani untuk mengajak Galva berbincang. Panggilan kaka ade saat
itu berlaku, Rey mengawali perbincangan diawal pertemuan dimana hanya ada
mereka berdua saja. “ka, apakabar ?”.
“Alhamdulillah, baik de. Kamu sehat ?” jawab Galva. “Maapin ade yaa ka, suka ganggu kaka dengan sms ade yang ga jelas”, tuturnya. “sms yang mana de ? iya gakpapa, tanpa kamu minta maap kaka udh maapin kamu ko” jelas Galva. “yaa semua sms yang pernah ade kirim aja ka, makasih kaka emg ka Galva tuh kaka Rey yang baik bangeeet deh” ungkapnya pada Galva.
“Alhamdulillah, baik de. Kamu sehat ?” jawab Galva. “Maapin ade yaa ka, suka ganggu kaka dengan sms ade yang ga jelas”, tuturnya. “sms yang mana de ? iya gakpapa, tanpa kamu minta maap kaka udh maapin kamu ko” jelas Galva. “yaa semua sms yang pernah ade kirim aja ka, makasih kaka emg ka Galva tuh kaka Rey yang baik bangeeet deh” ungkapnya pada Galva.
Perbincangan
tak berhenti disitu, Galva dan Rey duduk berdua disebuah kursi panjaang yang
sengaja disediakan oleh petugas taman. Sungguh kaget bukan main, Rey tiba-tiba
secerewet ini. Galva pun memulai, “de kamu kenapa ? ko beda banget yaah, apa ini
emg kamu yang sebenernya ?” tanya Galva pada Rey sembari membuka perbincangan
yang baru. “kaka heran yah, emang gini lah ade yang sebenarnya. Ga kaya kaka
bayangin sebelumnya kan”, jelasnya pada Galva. Jujur hanya pada saat itulah
Galva tau seberapa bedanya Rey yang ada difikiran dan dihadapannya. Tiba-tiba
Rey tertunduk, entah karena apa. Galva pun menyentuh pundaknya dan bertanya,
“de kamu kenapa ? murung, katanya cerewet. Lagi ada masalah kah ? cerita dong,
biar kaka tau”. Malah Galva yang mendadak cerewet, karena Rey entah kenapa ia
menjadi murung. Dengan membalikan mukanya, Rey menjawab “ ade sayang kaka, ade
gamau kehilangan kaka. Jangan pergi dari ade yah ka”. Galva yang memperhatikan
tiap jawaban yang keluar dari bibirnya, hanya bisa terdiam dan bengong. Tak
percaya dia mampu mengungkapkan perasaannya itu pada Galva, sedangkan waktu
yang selalu memisahkan mereka. jarak, tempat dan sekolah pun jelas-jelas
memisahkan. Tapi hanya ditaman ini, taman yang tak seindah taman anggrek
ataupun taman lainnya perasaan itu mampu membuat Rey berani berbicara. “
ade...”, ucap Galva dengan spechless. Tak mampu ia berbicara kata lain, selain
hanya memanggilnya. “iya ka, ade disini” jawabnya.
Tiba-tiba,
handphone Galva berdering ternyata itu adalah Zaki pacarnya. Berusaha untuk
menghargai perasaan Rey, ia pun membiarkan handphonenya berdering terus
menerus. “ada telpon tuh ka, angkat dulu”, suruhnya. “iya gakpapa de, bukan
siapa-siapa ko” bual Galva pada Rey.
“coba yah ade liat” diambilnya hanphone dari genggaman
Galva. Hanya bisa ia lepaskan, karena Rey sedikit memaksa. Galva tak sadar,
bahwa Zaki dikontaknya diberi nama “my boyfriend”. Aduuh ternyata dengan tak
sengaja Galva mematikan rasa Rey. “ini pacar kaka, gabaik tau ga diangkat kaya
gitu tuh. Marah aja nanti pacarnya” ucap Rey pada Galva. “yaudah, kaka angkat
dulu yah” izinnya pada Rey. Berjalanlah Galva
beberapa langkah dari kursi yang sedari tadi mereka berdua duduki.
Setelah selesai, kembalilah Galva pada Rey yang masih tetap menunggu dikursi
itu. “maap lama yaaah” ucap Galva padanya. “iya kak, gakpapa kok. “Kaka kenapa
gabilang kalo kaka udah ada yang punya”
tanyanya pada Galva. “udah lama de, bentar lagi kaka sama Zaki udah mau
satu tahun. Dikira kaka, ade udah tau. Makanya tadi kaka bengong aja waktu kamu
blg gitu sama kaka. Tapi tenang aja de, kaka juga sayang kamu ko sayang sayang
banget pokonya”, ucap Galva pada Rey. “beneran ka ? bohong ah kaka mah, Cuma
bikin ade seneng aja itumah”, lirihnya sembari membelakangiku. Melihat Rey
murung, Galva berusaha membuat dia bangkit lagi. Satu dekapan untuknya, Galva
beri sambil berkata “ade sayaaaang, beneran ko. Kaka emang sayang banget sama
kamu, Zaki yaa Zaki, ade yaa ade. Masih ga percaya ?”, tanya Galva pada Rey
yang kembali dalam senyumnya. “iya iya, ade percaya deh sama kaka sekarang.
Awas tapi yah, kalo tiba-tiba ngilang dari ade begitu aja”, ancamnya pada Galva
sembari melepaskan diri dari dekapan Galva. “wow sereeeeem, ade galak juga yah ternyata.
Iya deh siap pakbos, kaka pasti berusaha buat selalu ada buat ade deh” jawabku
sambil mencubit pipinya. “sakit kaka, gantian ih gantian” pintanya dengan
kembali membalas cubitan yang telah ia terima. Suasana taman yang semula sepi
menjadi ramai karena ulah Galva dan Rey
yang berbalas cubit sembari tertawa. Cubit-cubitan berhenti saat mereka melihat
jam yang ada ditangan masing-masing. Ternyata waktu telah sore, sang raja siang
akan kembali ke peraduannya. “kamu pulang sama siapa de ?”, tanyaku. “dijemput
ayah ka, kaka sama ka Zaki yah ?” jawab dan tanya Rey pada Galva. “enggalah,
dia ada di Pandeglang de. Kaka tinggal jalan kaki aja, nanti juga nyampe ko”,
jelas Galva pada Rey. Rumah Galva memang tak jauh dari Taman itu. Galva berniat
untuk pulang duluan, tapi ternyata tangan Rey meraih tangan Galva. “jangan dulu
pulang, ade gamau sendiri. Ade masih betah sama kaka, ade masih kangen sama
kaka” begitu ucapnya secara terus menerus pada Galva. “suuut, iya iya kaka engga
dulu pergi. Kaka juga sebenernya masih kangen kamu tau, masih pengen duduk
bareng sama kamu tapikan udah sore de” jelasku padanya sembari menutup mulutnya
yang tak berenti bicara.
Sang
surya telah kembali ke peraduannya, Galva dan Rey masih tetap disitu. Galva
yang sedang duduk diatas kursi panjang dan Rey yang sedang asik smsan entah
sama siapa. Tak terasa kalo dia duduk ditanah, “hayooo lagi smsan sama siapa ?”
tanyaku sembari memeluknya kembali.
“sama temen dong, emang kaka sama ka Zaki” sindirnya padaku. “dih yaaaah
gituan, sms kaka gapernah kamu bales tau. Siriklah kaka sama temen kamu itu.
Kenapa yah sms kaka gapernah ade bales ? lagi ga sayang kaka kali yaaah”,
jelasku padanya.“yes yes yes, gantian siriknya. Ga enak kan kalo sirik itu. Ade
sayang kaka sampe kapanpun ih, bukan karena itu ade gabales sms kaka” ucapnya
padaku. “oh, kamu bales dendam tah ceritanya. Atau jangan kamu Masih marah sma
kaka ?”, tanyaku padanya. “dih ngapain marah, engga pentinglah”, jawab Rey
dengan sinis. “ade kenapa ih ? ko sinis gitu sama kaka. Bilang aja kalo kamu
masih marah, gapake sinis berapa sih Rey”, jelasku dengan nada tinggi sembari
melepas pelukan. “kenapa kaka yang marah sama ade, salah ade apa sih sama kaka.
Kalo kaka ga sayang, engga gini juga caranya. Ade bisa pergi baik-baik ko dari
kaka” ujarnya dengan membuat suasana semakin panas. “ya ampun, sepele padahal
yah. Mendadak tau kamu tuh kaya gini de, dan kaka baru tau skg kamu ternyata
kaya gini. Cukup tau deh, makasih”, jelasku pada Rey dan berniat meninggalkan
tempat itu. Secepat Galva membalikan badan, secepat itu pula Zaki ada
dihadapannya dengan kue tart dikedua tangannya. Serempak Rey dan Zaki
menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Galva. Dengan sontak Galva memeluk
kedua orang itu sembari menangis dan berkata, “jahat banget jahat, kalian tuh
orang yang paling jahat yang pernah aku temui”. “maapin aku yaaa sayang, kamuu
seneng kan aku bisa ada disini” ucap Zaki padaku sambil mengusap kepala.
“seneng banget, tapi ade aku jahat banget yang. Galak banget tadi tuh dya
gakuat nahan nangis daritadi tuh” aduku pada Zaki. “hehe, maapin ade yaa.
Disuruh kak Zaki ade tuh. ade ga marah sama kaka dan sampai kapanpun ade
bakalan tetep sayang ko sama kaka. Asal kaka tau, tadi tuh ade sibuk smsan sama
ka Zaki tau” ucap Rey pada Galva seraya membocorkan persekongkolan antara Rey
dan Zaki.
Akhirnya
Galva, Zaki dan Rey duduk bersama dikursi panjang itu. Setelah tiup lilin dan
potong kue, Zaki berkata “Selamat Ulang Tahun yaa sayang, semoga kita tambah
langgeng karena hari ini juga adalah tepat hari jadi kita yang satu tahun.
Sampe kapanpun cinta dan sayang ini takan pernah pudar. Love you” bisiknya sambil
memeluk Galva. Tidak ada kata yang bisa Galva ucapkan selain titian air mata
yang ia keluarkan atas kebahagiaannya dihari itu. kue tart yang dipegang Rey,
terpasangkan lilin 1, 2 dan 0. Satu untuk satu tahun jadiannya dengan Zaki dan
duapuluh untuk umur Galva yang semakin tua. Tepat petang itu, Galva masih bersama
Zaki disampingnya dan Rey yang ingin selalu ada didekapan Galva. Hingga rela
duduk ditanah, dengan ku tart yang tak pernah lepas dari tangannya. Rey adalah
sosok adik yang Galva inginkan, dimana selalu menghadirkan kerinduan dan Zaki
adalah sosok pacar yang selalu menghadirkan cinta dan sayang disetiap saat.
Terima kasih atas kebahagian yang Tuhan berikan lewat mereka ini dua sosok
laki-laki hebat yang sayangnya selalu menghiasi, terutama untuk hari ini 24
Februari yang takan mungkin Galva lupakan selamanyaaa.
-END-
Yogyakarta, 26 Desember 2012
Addennaputri59
00.42 WIB
00.42 WIB
Komentar
Posting Komentar