Menikmati Senja di Pasar Kangen Jogja

Kerupuk dari Singkong, salah satu makanan tempo dulu.
Taken by : Kartika Dewi
Senja mulai menyinari, tepat dibelakang tempat saya menulis kali ini. Angkringan sebelah timur panggung kesenian TBY (Taman Budaya Yogyakarta). Pelan-pelan turun dan sinar mentari semakin pudar hingga tak terasa akhirnya tulisan ini selesai.

Banyak orang mengunjungi stand di Pasar Kangen Jogja, salah satu acara tahunan di TBY yang digelar untuk menjadi destinasi baru pariwisata DIY. Seperti yang telah tercantum dalam press release. Kegiatan yang akan diselenggarakan dari tanggal 25-30 Agustus 2015 ini dibuka mulai jam 12.00 sampai dengan 21.00 setiap harinya. Kebetulan, saya datang tepat di acara pembukaan (25/08). Setelah mengisi daftar hadir, panitia memberikan Kreweng kepada pengunjung. Kreweng adalah (uang bulat dari tanah liat yang hanya ada di pembukaan Pasar Kangen Jogja).

Seluruh kendaran parkir diluar gerbang TBY, begitu sapaan akrab untuk tempat yang identik dengan kegiatan yang berbau kebudayaan ini. Disambut oleh gardu yang terbuat dari bambu makin terasa kesan tradisional di area ini. Beberapa pojok telah disiapkan untuk pengunjung berfoto sembari memegang papan bertuliskan “Pasar Kangen”. Tepat di halaman TBY, kiri kanan sudah berjejer penjual aneka macam makanan dan minuman tradisi Jogja seperti jenang grundel, dawet ayu, gatot, ketan, tiwul, cenil, wedang uwuh, pecel ndeso dan masih banyak lainnya. Panggung kesenian menjadi center, disana akan ditampilkan beberapa kesenian daerah mulai hari ini sampai akhir pekan nanti. Memasuki teras TBY, telah berjejer stand aneka kerajinan buatan tangan (handmade) serta koleksi masa lampau seperti majalah, buku, gramofon, piringan hitam serta kaset-kaset lama hingga barang trend masa kini pun ada, yaitu batu akik.

Lantunan tembang jawa yang menjadi backsound menambah suasana tempoe doeloe semakin terasa. Romantisisme ini nampaknya yang dirindukan banyak orang, mulai dari remaja sampai orangtua, bahkan untuk pengenalan tak sedikit orangtua yang mengajak anaknya bermain ke tempat ini. Mereka sengaja mengenalkan makanan zaman dulu, mencicipi berdua sembari duduk lesehan di rumput yang beralaskan tikar. Beberapa orang yang jauh merantau dari pulau sebrang pun tak ingin melewatkan moment setahun sekali ini, selain nostalgia mereka mencoba untuk mencicipi makanan khas Jogja yang terkenal dengan cita rasa manis dan harga murah.

Spesial untuk pengunjung yang datang sebelum acara dimulai. Mereka bisa menikmati jajanan yang ada di Pasar Kangen dengan gratis. Hanya dengan menggunakan Kreweng begitu sebutannya, pengunjung bisa dengan gratis mendapatkan jajanan yang diinginkan seharga 5000 rupiah. Namun, jangan khawatir buat yang tidak kebagian. Harga-harga yang ada dijual disini tidak semahal sebagaimana tempat wisata pada umumnya. Berkisar dua sampai dua puluh ribu rupiah.

Saya memilih untuk menyimpan kreweng untuk kenang-kenangan, dibanding ditukar dengan makanan. Sekilas teringat ketika barter digunakan oleh orang-orang zaman dulu. Dimana barter adalah satu cara yang digunakan orang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, biasanya nilainya harus sebanding. Namun sedikit berbeda, di Pasar Kangen ini satu kreweng bernilai sama dengan mata uang seribu rupiah. Dibuat dari tanah liat sekilas benda ini terlihat seperti biskuit cokelat.

Tak terasa, teh panas yang sedari tadi menemani sudah habis. Hari pun semakin sore, pengunjung pasar kangen Jogja semakin ramai. Semua orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, seperti penjaga stand yang sibuk melayani pembeli, penjaga parkir yang sibuk menata kendaraan yang semakin banyak. Sementara, orang yang berada disamping saya menikmati sore di Pasar Kangen Jogja cukup dengan segelas kopi hitam sembari melihat orang-orang lalu lalang dihadapannya. Bersama sahabatnya ia bercengkrama, ketika saya tanya pak’de ndak jajan? Ia hanya melempar senyum tanpa bicara banyak, padahal sebelumnya ia sempat memberitahu referensi makanan enak khas Jogja tempoe doeloe kepada dua rekannya yang menghampiri.

Mari bernostalgia sembari menikmati senja.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutemukan Kesetiaan

Analisis Komunikasi Kelompok

Debar Ketakutan